Sunday, July 14, 2019

10 HENTIKAN PERTELINGKAHAN


SYI’AH-SUNNI YANG PENTING JUMPA ALLAH (Bhgn 1)

Setelah Abu Bakar dipilih menjadi khalifah, Abu Sufyan datang menghadap Ali bin Abi Thalib RA. Dengan penuh kemarahan ia berkata,”Mengapa kekhalifahan diserahkan kepada orang yang paling rendah status dalam kabilah Quraisy dan orang yang paling terhina (Abu Bakar RA)”.

Kemudian ia melanjutkan kata-katanya dengan rasa marah, “Demi Allah, jika kamu izinkan, aku akan kumpulkan kuda dan orang-orang untuk memeranginya.”

Akan tetapi Imam Ali kw menjawab,”Wahai Abu Sufyan, selama ia menjaga Islam dan pemeluknya, maka tidak apa-apa jika ia yang memegang kekhalifahan. Dan aku menilai bahwa Abu Bakar adalah orang yang layak untuk menjadi khalifah”. (lihat Al-Haakim juz 3, hal. 78).

Sungguh luar biasa sikap para sahabat Nabi SAW yang bisa saling menghormati dan tidak gila kekuasaan seperti yang ditunjukkan oleh Imam Ali kw. Sangat berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang yang merasa menjadi pengikut Beliau, merasa menjadi pembela Ahlul Bait akan tetapi yang tertanam dalam hati hanya kebencian dan dendam berkepanjangan dan diwariskan dari generasi ke generasi sampai hari ini. Kekejaman Muawiyah bin Abu Sufyan beserta Dinasti Umayyah nya terhadap keluarga Nabi menimbulkan kepedihan berkepanjangan dan kemudian tanpa disadari menyebabkan perpecahan dalam ummat Islam.

Saya dan juga pengamal Thareqat Naqsyabandi lain nya bukan lah orang-orang yang terikut dalam pertentangan tersebut. Oleh Guru saya diajarkan bahwa semua sahabat Nabi itu adalah orang-orang pilihan yang sangat berjasa dalam mengembangkan Agama Islam. Seluruh Thareqat yang ada saat ini bersumber kepada dua sahabat yaitu Abu Bakar RA dan Ali Bin Abi Thalib kw.

Dalam Do’a Pusaka yang selalu dibacakan disaat penutupan suluk/’itikaf didalamnya selalu disebutkan 4 wali utama yaitu Syekh Abdul Qadir Jailani dan Syekh Junaidi Al-Bahgdadi yang silsilah Thareqatnya bersambung kepada Imam Ali kw serta Syekh Abu Yazid Al-Bisthami dan Syekh Bahauddin Naqsyabandi yang silsilah Thareqatnya bersambung kepada Saidina Abu Bakar RA.

Mempertentangkan Syi’ah dan Sunni dalam bingkai Thareqat merupakan suatu tindakan yang kurang bijaksana karena Thareqat itu telah melampaui paham-paham syariat yang dikembangkan oleh kedua aliran. Bisa jadi seorang pengamal Thareqat Qadiriah yang silsilahnya bersambung kepada Imam Ali kw tidak ikut aliran syiah dan juga sebaliknya bisa jadi pengamal Thareqat Naqsyabandi yang silsilahnya bersambung kepada Abu Bakar RA ikut kepada paham Syi’ah, itu merupakan hal yang wajar-wajar saja. Sufi Muda bukanlah forum untuk membela Sunni meskipun pelaksanaan syariatnya tunduk kepada Mazhab Imam Syafi’i sebagai mazhab yang paling banyak pengikutnya di Indonesia. Biarlah pertentangan masa lalu itu terkubur bersama sejarah karena orang-orang yang berlaku tidak adil terhadap Ahlul Bait yang mulia pun telah di azab oleh Allah SWT.

Terakhir, jika kita masih mempertentangkan antara Syi’ah dan Sunni dalam bingkai Thareqat menandakan bahwa kita  belum mengerti sepenuhnya apa itu Thareqat karena sesungguhnya Thareqat itu adalah murni metode untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Allah nya orang Sunni dan Allah nya orang Syi’ah, dan sudah pasti Allah nya Nabi Muhammad SAW. Dari pada memperdebatkan jalan mana yang paling cepat sampai kepada-Nya lebih baik jalani salah satu jalan (thariq) dan setelah sama-sama sampai di Taman Surga marilah kita saling senyum dan bertegur sapa, marilah kita sama-sama melayani-Nya dengan senang hati. Semoga Allah SWT akan memberikan kesempatan kepada kita semua untuk terus bisa memandang wajah-Nya dari dunia sampai ke akhirat kelak, Amien Ya Rabbal ‘Alamin

Sunni-Syiah Yang Penting Jumpa Allah (Bhg 2)

Selama Islam masih eksis di dunia ini maka selama itu pula pertentangan dua kubu besar dalam Islam yaitu Sunni dan Syiah akan terus ada. Ibarat dua lingkaran dengan dua warna kontras, seperti hitam dan putih atau merah dan kuning, keduanya tidak bisa disatukan. Namun dalam ilmu matematika kedua lingkaran berbeda tersebut ada titik temu, dinamakan daerah Arsiran, pertemuan kedua lingkaran berbeda warna akan membentu warna baru, warna yang mengikat keduanya dengan kuat.

Sebelum kita membahas titik temu keduanya, ada baiknya untuk sementara kita keluarkan dulu wahabi/salafi dari golongan sunni agar lebih adem, karena kelompok ini baru muncul 100 tahun lalu, aliran ini bisa jadi tetap ada ikut mewarnai Islam atau nanti akan hilang seiring dengan perkembangan zaman, sama halnya dengan aliran khawarij yang muncul di awal perkembangan Islam dan sekarang hilang tertiup angin. Kita juga keluarkan kelompok ekstrim Syiah yang senang mencaci para sahabat dan juga Istri Nabi dari kelompok Syiah dengan tujuan agar lebih adem, karena kita sedang mencari titik arsir keduanya.


Pertanyaan menarik, apa kira-kira daerah arsir yang mempertamukan antara Sunni dan Syiah. Dari segi jumlah, penganut sunni jauh lebih besar dari Syiah, 90% berbanding 10% (Wikipedia). Titik temu utama kedua golongan yang sudah ada sejak zaman dulu ini adalah keduanya menyembah Allah dan mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi/Rasul mereka. Inilah titik pertemuan paling akrab dari kedua aliran ini.

Dalam pengantar buku Islam Syiah, Asal Usul dan Perkembangannya yang ditulis oleh Allamah M.H. Thabathaba’i, profesor studi Islam di Universitas George Washington Amerika Serikat, Seyyed Hossein Nasr, 79, mengatakan ada lima prinsip agama atau ushuluddin Islam Syiah, yaitu:

Tauhid, yakni kepercayaan kepada keesaan Ilahi
Nubuwat, yakni kenabian
Ma’ad, yakni kehidupan akhirat
Imamah atau keimanan, yakni kepercayaan adanya imam-imam sebagai pengganti nabi
Adil atau Keadilan Ilahi.
Menurut Nasr, dalam tiga prinsip dasar, yakni Tauhid, Nubuwat, dan Ma’ad, Sunni dan Syiah bersepakat.

“Hanya dua prinsip dasar yang lain, yakni Imamah dan Keadilan, mereka berbeda,” ujar dia. (Tempo)

Prof Quraish Shihab dalam Buku Sunnah-Syiah, Bergandengan Tangan, Mungkinkah? Menulis :

Secara umum ada dua kelompok umat Islam dengan jumlah pengikut yang besar yaitu kelompok Ahlussunnah wa al-Jamaah dan kelompok Syiah.

Kelompok pertama secara harfiah dari kata Ahl as-sunnah adalah orang-orang yang konsisten mengikuti tradisi Nabi Muhammad. Baik dalam tuntunan lisan maupun amalan serta sahabat mulia beliau. Golongan ini percaya perbuatan manusia diciptakan Allah dan baik buruknya karena qadha dan qadar-Nya. Kelompok Ahlussunah juga memperurutkan keutamaan Khulafa’ar-Rasyidin sesuai dengan urutan dan masa kekuasaan mereka.

Shihab mengaku kesulitan untuk menjelaskan siapa saja yang dinamai Ahlussunah dalam pengertian terminologi. Secara umum, melalui berbagai pendapat, golongan ini adalah umat yang mengikuti aliran Asy’ari dalam urusan akidah dan keempat imam Mahzab (Malik, Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, dan Hanafi).

“Sebelum memulai dengan siapa Syiah, perlu digarisbawahi, kelompok Syiah pun menamai diri Ahlussunah,” ujar dia. Tapi definisinya tentu berbeda. Syiah memang mengikuti tuntunan sunah Nabi, tapi ada sejumlah perbedaan bentuk dukungan dan tuntunan itu.

Muhammad Jawad Maghniyah, ulama beraliran Syiah, mendefinisikan tentang kelompoknya. Syiah yang secara kebahasaan berarti pengikut, pendukung, pembela, dan pecinta ini adalah kelompok yang meyakini bahwa Nabi Muhammad telah menetapkan dengan nash (pernyataan yang pasti) tentang khalifah beliau dengan menunjuk Imam Ali.

“Definisi ini hanya mencerminkan sebagian dari golongan Syiah, tapi untuk sementara dapat diterima,” kata Shihab.

Perbedaan antara Syiah dan Ahlusunnah yang menonjol adalah masalah imamah atau jabatan Ilahi. Khususnya ada tiga hal pokok yang diyakini Syiah dan ditentang Ahlussunnah. Ketiganya adalah pandangan tentang Nabi belum menyampaikan seluruh ajaran/hukum agama kepada umat, imam-imam berwenang mengecualikan apa yang telah disampaikan Nabi Muhammad SAW, dan imam-imam mempunyai kedudukan yang sama dengan Nabi dalam segi kemaksuman (keterpeliharaan dari perbuatan dosa, bahkan tidak mungkin keliru dan lupa).

Keberatan itu, tulis Shihab, tertuang dalam buku karangan Syaikh Abu Zahrah berjudul Tarikh al-Maadzahib al-Islamiyah. Bagi kaum Syiah, imam yang mereka percayai ada dua belas orang jumlahnya. Mulai dari Imam Ali hingga Imam Mahdi. Mereka adalah manusia pilihan Tuhan yang kekuasaannya bersumber dari Allah.

Pemahaman tentang imamah dalam syiah ini mirip dengan kedudukan Mursyid dalam tarekat, dimana otoritas yang di miliki seorang Mursyid berasal dari Allah, dari Mursyid akan terdengar kembali kalam-kalam Allah yang Maha Hidup dan Maha Berkata-kata. Pengamal tasawuf apakah dia berasal dari sunni maupun syiah, tentu keduanya memiliki pemahaman yang sama tentang pemimpin Ilahi walau menyebutnya dengan istilah berbeda.

Akan tetapi, dalam pandangan Suni (pengamal tarekat), otoritas Ilahiyah tersebut tidak selamanya harus berasal dari Keturunan Nabi, karena Allah memberikan cahaya-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, sesuai dengan firman Allah dalam surat an-Nur-35.

Pembahasan tentang sunni dan syiah dari perpekstif tasawuf sudah pernah saya tulis 7 tahun lalu dalam tulisan Sunni-Syiah Yang Penting Jumpa Allah dan tulisan ini mudah-mudahan bisa memberikan sedikit ketenangan di kalangan ummat di tengah informasi-informasi negatif tentang syiah di media sosial. Sudah menjadi sifat dasar manusia secara umum menyenangi informasi negatif, kebutuhan ini dijawab oleh pemilik media untuk menampilkan berita-berita sampah sebagai “makanan” fikiran manusia awam sehingga fikirannya semakin awam.
====================

Kebenaran Itu Tidak Ada!

Tanpa terasa tidak lama lagi kita memasuki bulan suci ramadhan, bulan yang ditunggu tunggu oleh ummat Islam di seluruh dunia. Kalau ibarat tanah, Ramadhan adalah ladang yang sangat subur, tanaman apapun yang ditanam disana akan memberikan hasil yang berlipat ganda. Sebulan dalam setahun ummat Islam diberi kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki kekurangan dalam ibadah, sehingga ibadahnya menjadi sempurna.

Tadi pagi saya ikut gotong royong membersihkan mesjid, persiapan memasuki Ramadhan, mulai dari dalam mesjid sampai ke pekarangannya. Sejak saya lahir sampai tadi dan mungkin sampai akhir zaman, perdebatan tentang jumlah rakaat shalat tarawih selalu saja ada dan akan terus ada. Saya biasa melakukan shalat tarawih 20 rakaat, karena di lingkungan saya tinggal jumlah rakaat nya segitu, dan kalau saya berada di lingkungan masyarakat yang meyakini rakaat shalat tarawih 8 rakaat maka saya mengikutinya tanpa harus menambah lagi setelah pulang dari mesjid.

Perdebatan jumlah rakaat shalat tarawih sudah berlangsung sejak lama, kedua-dua nya mempunyai dalil yang kuat, semuanya bersumber dari hadist Nabi. Dari kedua versi, yang mana paling benar? Jawabannya adalah keduanya benar, atau keduanya tidak benar.

Sadar atau tidak, kebenaran itu TIDAK ADA. Seluruh manusia mempersepsikan kebenaran menurut ilmu yang diketahuinya, menurut input yang masuk ke dalam akal fikirannya. Bagi sunni, penganut syiah adalah sesat dan menyimpang dari agama, sedangkan bagi penganut syiah, sunni menyimpang dari agama, lahir dari produk politik masa lalu. Sunni dan syiah keduanya benar dan keduanya salah, tergantung anda memandang dari sudut pandang mana.

Apakah Islam agama yang benar? Bagi penganut agama Islam itu sudah jelas, Islam agama yang di ridhai Allah, bagi non muslim? Islam bukan agama yang benar, agama mereka yang paling benar. Bagi penganut ajaran wahabi/salafi, apa yang mereka yakini dan amalkan adalah yang paling benar, sedangkan bagi kelompok di luar mereka, wahabi/salafi adalah ajaran menyimpang dari agama, ajaran yang muncul 100 tahun lalu.

Kalau anda mencari kebenaran, maka sampai kapan pun anda tidak akan menemukan keberaran. Maksud saya, kalau kebenaran yang anda cari adalah kebenaran yang bisa diterima oleh semua orang, kebenaran tanpa ada yang mengingkari.

Kebenaran dalam bahasa Arab adalah Haqq, merupakan nama dari Allah Al-Haqq (Maha Benar), itu sebabnya di dunia ini tidak ada yang benar, sampai manusia menemukan al-Haqq.

Ketika manusia menemukan al-Haqq maka dia sudah tidak memerlukan lagi pengakuan dari makhluk, tidak memerlukan lagi dukungan atas apa yang diyakininya. Hatinya telah sibuk bersama Allah, dia sudah tidak lagi berada pada level persepsi yang merupakan produk akal. Manusia yang telah bersama Allah tidak akan bisa lagi menemukan kesalahan pada manusia lain, karena tidak telah mampu melihat seluruh jalan yang dilalui manusia untuk mencapai Tuhan. Karena telah berada di puncak piramida, maka dia mampu melihat seluruh sisi bangunan, mampu melihat kehadiran dan ketidakhadiran cahaya Allah pada diri masing masing individu manusia.

Pada level ini manusia tidak lagi memerlukan sebab, karena segala sesuatu terjadi semata-mata karena Allah. Tidak lagi terpengaruh oleh benar salah, pahala dan siksa, seperti ucapan ketidakpedulian Rabi’ah al-Adawiyah akan surga dan neraka. Bahkan kehidupan tidak lagi bisa diberi makna, karena mareka telah pasrah dalam genggaman Allah Ta’ala seperti bayi dalam pangkuan Ibu nya, tanpa berdaya apa-apa selain perlindungan dan kasih sayang sang Ibunda. Dalam kondisi ini lah Al-Halaj berkata, “hidup dan mati bagi ku sama saja”.

====================

Ketika Buya Hamka Mengimami Sholat Shubuh di Kediaman KH Abdullah Syafi’ie

Membaca tulisan yang saya kutip dari islampos.com dibawah ini membuat saya pribadi menjadi rindu akan sosok ulama kharismatik yang lebih mementingkan ukhwah islamiah dibanding ego pribadi, hal yang semakin lama semakin sulit di dapatkan. Maka menjadi benar pendapat yang mengatakan bahwa ketinggian ilmu seseorang bukan terletak banyak atau sedikit hal yang dia ketahui tapi terletak pada ahlak yang dimilikinya, silahkan di baca.

buya-hamka-abdullah-syafii_islampos-490x226ULAMA-ulama besar yang sudah menorehkan begitu banyak amal sholeh tak akan pernah mati—walaupun jasadnya sudah dikubur oleh tanah. Itulah yang selalu kita dapatkan dari sosok Buya Hamka dan KH Abdullah syafi’ie.

Siapa yang tidak kenal Buya Hamka, dengan perguruan Al-Azhar dan tafsirnya yang fenomenal? Dan siapa tidak kenal KH Abdullah Syafi’ie, pendiri dan pemimpin Perguruan Asy-Syafiiyah, yang umumnya kiyai Betawi pada hari ini adalah murid-murid beliau?

Meski Buya Hamka adalah tokoh Muhammadiyah, namun ia berkawan baik dengan tokoh NU seperti KH. Abdullah Syafi’ie, ulama kawakan yang juga dijuluki ‘Macan Betawi’ kharismatik.

Di antaranya kisah sederhana Buya Hamka dan KH. Abdullah Syafi’ie ialah toleransi dan lebih mengedepankan ukhuwah Islamiyah.

Kisah ini, sebagaimana yang diceritakan oleh putera beliau, Rusydi Hamka, adalah tentang persoalan khilafiyah seperti qunut, jumlah rakaat tarawih, maupun jumlah adzan shalat jum’at. Meski Buya Hamka boleh dibilang tokoh Muhammadiyah yang tidak mempraktikkan qunut pada shalat subuh, namun beliau menghormati sahabatnya, KH. Abdullah Syafi’ie, ulama yang menyatakan bahwa qunut shalat shubuh itu hukumnya sunnah muakkadah.

Buya Hamka jika hendak mengimami jamaah shalat subuh, suka bertanya kepada jamaah, apakah akan menggunakan qunut atau tidak. Dan ketika jamaah minta qunut, tokoh dan penasihat Muhammadiyah inipun mengimami shalat subuh dengan qunut.

Dalam kesempatan lain tentang masalah adzan dua kali. Suatu ketika di hari Jumat, KH. Abdullah Syafi’ie mengunjungi Buya di masjid Al-Azhar, Kebayoran Jakarta Selatan. Hari itu menurut jadwal seharusnya giliran Buya Hamka yang jadi khatib. Karena sahabatnya datang, maka Buya minta agar KH. Abdullah Syafi’ie saja yang naik menjadi khatib Jumat.

Yang menarik, tiba-tiba adzan Jumat dikumandangkan dua kali, padahal biasanya di masjid itu hanya satu kali adzan. Rupanya, Buya menghormati ulama betawi ini dan tahu bahwa adzan dua kali pada shalat Jumat itu adalah pendapat sahabatnya. Jadi bukan hanya mimbar Jumat yang diserahkan, bahkan adzan pun ditambahkan jadi dua kali, semata-mata karena ulama ini menghormati ulama lainnya.

Begitu pula tentang jumlah rakaat tarawih. Buya Hamka ketika mau mengimami shalat tarawih, menawarkan kepada jamaah, mau 23 rakaat atau mau 11 rakaat. Jamaah di masjid Al-Azhar pada saat itu memilih 23 rakaat, maka beliau pun mengimami shalat tarawih dengan 23 rakaat. Esoknya, jamaah minta 11 rakaat, maka beliau pun mengimami shalat dengan 11 rakaat. [hobat-habbatushauda]

=================

Salah Paham Tentang Tarekat.

Kalau anda memahami tarekat itu sebuah perkumpulan zikir maka anda boleh ikut atau tidak di dalamnya karena di dunia ini banyak perkumpulan-perkumpulan sejenis yang berbasis agama dan kalau anda memahami tarekat adalah kumpulan bacaan zikir yang dibacakan disaat tertentu maka anda boleh tidak bergabung di dalamnya karena anda bisa mengambil bacaan zikir yang lain tidak harus sama dengan apa yang diamalkan oleh orang-orang tarekat. Begitu pun kalau anda memahami tarekat sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah anda pun bisa berdalih bahwa dengan ibadah-ibadah yang ada anda bisa dekat dengan Allah. Lalu bagaimana kita memahami tarekat?


Tarekat tidak bisa dimaknai terpisah seperti di atas karena akan kehilangan makna yang sebenarnya. Tarekat berasal dari kata Tareqatulah atau jalan menuju kehadirat Allah SWT. Bahasa dulu dipahami sebagai jalan sedangkan dalam bahasa modernn lebih tepat disebut sebagai metodologi atau cara. Jadi tarekat adalah metodologi untuk melaksanakan ajaran agama secara benar sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah SWT.

Ketika Nabi masih hidup, metode untuk mendekatkan diri kepada Allah ini disebut Tariqatusirriah atau Jalan Rahasia dan kemudian menjadi cikal bakal istilah tarekat dan di zaman kemudian dikenal berbagai macam jenis tarekat. Kehidupan Nabi di mesjid bersama dengan orang-orang yang 24 jam tinggal bersama Nabi yang disebut Ahlussuffah itu adalah bentuk dari pelaksanaan tarekat yang sampai saat ini tetap dipertahankan.

Tujuan bertarekat tidak lain adalah bisa mengikuti sunnah Nabi secara zahir dan bathin dimana akhir zaman ini kebanyakan orang yang sibuk mengikuti sunnah Nabi secara zahir saja. Cara berpakaian, makan, minum dan kehidupan fisik Nabi dijadikan panutan itu bagus namun yang lebih bagus lagi adalah rohani kita bisa tersambung kepada rohani Nabi karena fisik dengan fisik akan terpisah oleh zaman sedangkan ruh dengan ruh tidak akan terpisah.

Kita bisa mengikuti gaya Nabi dalam segala hal tapi sudah pasti kita tidak akan bisa mengambil RASA yang dirasakan oleh Nabi. Kita bisa meniru shalat Nabi tapi getaran dada Nabi dan tangisan Beliau di dalam shalat tidak akan pernah bisa kita ambil karena itu bukan ranah fiqih atau syariat, itu adalah bagian tasawuf yang dipraktekkan lewat tarekat.

Manusia tidak akan bisa merindukan Allah kalau dia tidak mengenal dengan baik dan cara mengenal paling sempurna adalah lewat tarekat. Maka ketika tarekat di bid’ahkan saat itulah ummat Islam kehilangan kontak dengan Allah, itulah tujuan para orientalis dan yahudi lewat ajaran-ajaran yang disusupkan di dalam Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Di dunia ini hanya ada satu kelompok yang membid’ahkan bahkan mengharamkan tarekat dan tasawuf yaitu kelompok ciptaan orientalis yang menyusup ke dalam Islam. Kelompok ini pula yang melarang kita mewujudkan cinta kepada Nabi lewat berbagai bentuk seperti maulid dan pujian kepada Nabi. Ummat Islam ditakut-takuti dengan istilah menyeramkan yaitu SYIRIK.

Satu hal yang harus di sadari oleh ummat Islam bahwa inti sari dari beragama adalah ber AKHLAK. Akhlak itu tidak bisa dipelajari atau di tiru-tiru begitu saja. Anda ketika membaca hadist bahwa Nabi membuang duri dari jalan kemudian anda melakukan kebaikan itu dan anda merasa sudah mengikuti Nabi, anda keliru. Meniru 100% apa yang dilakukan Nabi tidak akan memindahkan apa yang ada di dalam dada Beliau. AHKLAK yang hakiki itu bukan di dapat lewat meniru apalagi hanya dengan modal membaca tapi di dapat dengan cara “MENDOWNLOAD” dari dada Nabi sehingga 100% murni anda terima.

Bagaimana cara Mendownloadnya? Dengan menghubungkan dada anda kepada anda Khalifah Rasulullah terakhir dan tersambung sanad dan rohaninya sehingga apa yang ada di dada Nabi akan berpindah ke dada anda. Cara inilah yang dipakai Nabi untuk mengubah akhlak masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang terpuji karena mereka mendapatkan getaran ilahiyah lewat dada Nabi.

Ketika tarekat anda tolak maka yang terjadi anda hanya bergaya saja mengikuti sunnah Nabi sedangkan di dada anda masih bersemayam setan yang dikutuk oleh Allah. Persis seperti orang buta huruf yang tidak tamat SD mencontoh gaya dokter dengan cara meniru fisiknya, memakai baju dokter dan peralatan dokter. Tampak luar dia persis seperti dokter tapi isi dalamnya tetap orang bodoh. Begitu juga orang yang meniru gerak gerik dan ibadah Nabi secara zahir tetapi di dalamnya….

======================

Rahasia Tetaplah Rahasia

Ketika saya membuat membuat blog ini menulis tentang tasawuf/tarekat tidak sedikit orang menentang baik dikalangan pengamal tarekat maupun orang yang memang menentang tarekat. Orang yang menentang tarekat dan tasawuf menyerang lewat dalil-dalil dengan begitu yakinnya mengklaim bahwa tasawuf adalah ilmu bid’ah yang tidak pernah diajarkan Rasulullah saw. Perdebatan panjangpun terjadi lewat komentar, email, YM dan ketika saya membuat akun Facebook, perdebatan itu berlangsung. Itulah awal-awal saya memulai blog ini dan pada akhirnya secara perlahan perdebatan itupun berkurang dan mulai terbangun sikap saling menghargai walaupun mereka tidak tetap tidak menyukai tarekat.

Saya bisa memahami perasaan orang-orang yang menentang tarekat, karena saya juga awalnya adalah orang yang sangat menentang tarekat, menentang dengan segudang dalil. Rasanya belum puas kalau belum menyampaikan dakwah kepada pengamal tarekat yang menurut saya adalah orang-orang bid’ah yang melakukan ibadah diluar apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Sikap menentang itu berubah total setelah saya bertahun-tahun berguru kepada Masternya Tarekat, berguru kepada Guru Mursyid yang benar-benar ahli di bidang tarekat dan tasawuf, akhirnya saya menyadari betapa saya merasa pandai dan ahli padahal saya tidak memahami sama sekali tentang tarekat. Saya mendapat informasi tarekat dari orang-orang yang membenci tarekat, buku-buku yang memang dibuat agar tarekat dibenci oleh seluruh ummat Islam.

Tahun 2008 dan 2009 adalah tahun dimana saya begitu rajin memposting hal-hal yang berhubungan dengan tarekat baik  tulisan sendiri maupun kutipan dari karya orang lain dan juga copy paste dari blog atau web lain. Dengan memposting info tentang tasawuf memberikan saya semangat dalam berguru, memperluas persahabatan dengan orang-orang yang mempunyai pemahanan yang sama.

Dikalangan pengamal tarekat sendiri tidak kurang kritik ditujukan kepada sufimuda. Sebagian menentang karena menganggap sufimuda dengan terang-terangan membuka hakikat yang selama ini menjadi rahasia dan dikawatirkan akan menimbulkan fitnah. Di kawatirkan orang awam yang salah mengartikan kata-kata hakikat dan akan menjadi senjata makan tuan. Lalu pertanyaan yang harus dijawab adalah apa sebenarnya hakikat? Apakah yang disampaikan lewat tulisan itu masih disebut hakikat atau itu hanya tulisan yang tidak ada hubungan sama sekali dengan hakikat.

Sebenarnya tidak ada larangan dalam Agama untuk menyampaikan sebuah ilmu asal cara menyampaikan bisa dimengerti oleh si penerima. Rasulullah saw memberikan nasehat, “Sampaikan sesuatu menurut kadar si penerima”. Sebenarnya apa yang saya tulis (saat ini sudah 300 tulisan) di sufimuda bukanlah hakikat apalagi makrifat. Saya hanya menulis sesuatu yang memang boleh di tulis dan disebarkan. Apa yang ditulis di dalam kitab-kitab tasawuf klasik jauh lebih mendalam dan berani bahkan akan dianggap aneh oleh orang-orang yang tidak pernah mendalami tasawuf sama sekali.

Setiap Guru Sufi memberikan aturan dan larangan yang berbeda kepada muridnya. Syekh Bahauddin Naqsyabandi semasa Beliau hidup melarang para murid untuk mencatat ucapan dan nasehat Beliau termasuk melarang murid-murid Beliau menulis riwayat hidup dan sejarah berguru Beliau. Beliau beranggapan biarlah ajaran-ajaran Beliau itu tersimpan di hati para murid dan kemudian diteruskan dihati kegenarasi selanjutnya tanpa dirusak oleh tulisan yang kadang kala berbeda dengan makna sebenarnya. Berbeda dengan Syekh Abdul Qadir Jailani, seluruh ucapan dan petuah Beliau secara harian ditulis oleh para murid dan kemudian dibukukan dengan tujuan agar apa yang beliau sampaikan bisa diterima oleh orang-orang yang tidak pernah berjumpa dengan Beliau. Kedua prinsip Syekh Besar tersebut menjadi dalil dan alasan yang sama-sama benar.

Guru saya melarang para muridnya menulis tentang kaji-kaji dalam tarekat mulai dari kaji dasar sampai dengan khalifah. Kenapa? Karena di kawatirkan dibaca oleh orang awam dan mempraktekkan tanpa Guru Mursyid yang membuat orang akan tersesat karena setan akan sangat mudah menyusup di setiap amalan yang di amalkan tanpa izin. Sementara Syekh lain termasuk Syekh Jalaluddin dengan terang-terangan menulis seluruh kaji dalam suluk dari Ismu Dzat sampai dengan Dzikir Tahlil dan beberapa kitab lain termasuk bahan referensi di Universitas menulis semua kaji-kaji dan amalan di dalam Tarekat. Syekh Muhammmad Amin Al-Kurdi dalam kitabnya Tanwir al-Qulub fi Mu’amalah ‘Allam al-Ghuyub yang menjadi rujukan para pengamal Tarekat di seluruh dunia membahas secara luas tentang hadap dan tata cara suluk tetapi disana tidak ditulis jenis-jenis amalan karena di kawatirkan akan diamalkan oleh orang yang tidak memiliki Mursyid.

Apa yang dialami oleh orang-orang yang telah tenggelam dalam Hakikat akan menjadi rahasia sepanjang hidupnya dan tetap akan menjadi rahasia selamanya sebab kalau diungkapkan maka itu bukan lagi sebuah rahasia. Menariknya ilmu hakikat adalah walaupun diungkapkan secara terang-terangan maka itu tetap menjadi sebuah rahasia bagi orang yang belum mencapai kesana. Al-Qur’an mengungkapkan secara terang-terangan bahkan sangat jelas membahas tentang hakikat Tuhan, tapi apakah semua orang yang membaca Al-Qur’an mencapai tahap makrifat? Jawabannya tidak karena Ayat-ayat Al-Qur’an penuh dengan symbol yang hanya bisa dimengerti oleh orang yang telah terbuka hijabnya.

Begitu terang-terangan Rasulullah SAW lewat hadist Beliau menjelaskan tentang hakikat, bahkan sangat terang, tapi karena umumnya yang membaca tidak terbuka hijab, ucapan Nabi yang demikian terbuka malah ditasfirkan secara keliru oleh akal manusia yang memang tidak sampai pemahaman disana akhirnya rahasia tersebut tetap menjadi rahasia.

Beberapa ucapan sahabat yang menggambarkan betapa rahasianya Ilmu Hakikat itu antara lain ucapan Abu Hurairah, “…Apabila aku ceritakan niscaya Halal darahku”, apabila hakikat itu diceritakan dengan bahasa salah maka nyawa sebagai taruhan. Atau ucapan saidina Husaen ra, “Apabila aku jelaskan hakikat itu kepada kalian niscaya kalian akan menuduh aku sebagai penyembah berhala”. Orang yang telah mencapai kaji disana akan tersenyum membaca ucapan dari saidina Husein, dan andai hakikat itu dibuka di zaman sekarang pasti orang akan menuduh yang sama yaitu dianggap orang yang mengamalkan hakikat itu sebagai penyembah berhala.

Sungguh luar biasa Allah melindungi ilmu-ilmu berharga tersebut demikian  rahasianya, ditempatkan di dalam qalbu para hamba-Nya sehingga tidak seorangpun bisa mengambilnya. Allah telah melindungi ilmu-ilmu berharga tersebut dengan hijab (penghalang) cahaya sehingga manusia tidak akan melihat karena begitu terangnya cahaya tersebut. Rahasia itu hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang telah bermandikan cahaya, larut dalam Dzat-Nya sehingga apa yang menjadi rahasia tidak lagi menjadi rahasia.

Apa yang saya sampaikan disini bukanlah hakikat, tapi tulisan-tulisan untuk memberikan semangat kepada kita semua untuk mencari kebenaran, mencari pembimbing yang menuntun dan membimbing kita semua kepada Allah. Dengan mendapat bimbingan kepada Allah sehingga kita tidak lagi tersesat dibelantara jalan tanpa arah dan dengan tenang kembali kepada asal kita masing-masing.

Rahasia tetaplah rahasia dan tetap akan menjadi rahasia sepanjang masa kecuali orang-orang yang telah berada dalam rahasia tersebut. Rahasia tersebut hanya bisa terbuka lewat Qalbu kepada Qalbu, ditransfer dengan teknik khusus yang diajarkan Rasulullah saw kepada para sahabat dan dari para sahabat kepada sekalian Guru Mursyid sampai saat sekarang ini. Rahasia itu tidak akan pernah bisa ditembus kecuali oleh orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah SWT. Semoga Allah yang Maha Pemurah selalu berkenan membuka hijab-Nya sehingga kita bisa memandang keindahan wajah-Nya dari dunia sampai akhirat., Amin ya Rabbal ‘Alamin!

========================

Tasawuf Tanpa Tarekat (1)

Tulisan yang terbagi menjadi 4 bagian ini saya tulis untuk menjawab pertanyaan dari beberapa orang pembaca baik yang dikirim melalui email saya (sufimuda@gmail.com) maupun lewat komentar di blog. Pertanyaanya apakah tasawuf harus mengamalkan tarekat bagaimana kalau ilmu tasawuf tanpa terekat?

Disudut kanan blog ini saya membuat sebuah poling tentang ini dengan pertanyaan yang sama, “Apakah Belajar Tasawuf Harus Dibimbing Guru Mursyid?”. Hasilnya (17 Maret 2012) dari  6.898 orang yang ikut poling sebanyak 6.286 atau 91,13% memberikan jawaban YA,  353 orang atau 5,12 % memberikan jawaban TIDAK dan sisanya 259 orang atau 3,75% memberikan jawaban TIDAK TAHU.

Dari hasil poling tersebut memberikan gambaran bahwa sebagian besar pembaca sufimuda adalah orang yang setuju bahwa untuk belajar tasawuf harus ada pembimbing yaitu Guru Mursyid artinya sebagian besar pembaca disini adalah orang-orang yang telah menemukan Guru Mursyid atau paling tidak dari referensi yang pernah dibaca memberikan keyakinan kepadanya bahwa dalam mengamalkan tasawuf harus menekuni tarekat dimana Guru Mursyid adalah pemimpin yang selalu menuntun dan membimbing para murid dalam setiap amal-amal zikir dengan demikian para murid akan terhindar dari kesalahan.

Tarekat di dalam ilmu Tasawuf ibarat sebuah bengkel tempat orang-orang mempraktekkan apa yang menjadi teori di dalam ilmu Tasawuf sehingga dihasilkan suatu produk seperti yang tertulis dalam kitab-kitab Tasawuf. Tarekat di dalam Tasawuf juga ibarat sebuah laboratorium tempat orang-orang yang mempelajari teori tasawuf mempraktekkan ilmunya dibawah bimbingan orang yang telah ahli di bidangnya sehingga ketika dia keluar dari laboratorium bisa meng-aplikasikan ilmunya ke dalam kehidupan sehari-hari dengan demikian akan memberikan manfaat kepada dirinya, keluarga dan lingkungannya.

Di Laboratorium bernama Tarekat itu, para murid mempraktekkan segala ilmu yang menjadi teori dalam tasawuf, lewat zikir dan ubudiyah, dimulai dengan taubat kemudian berlanjut kejenjang berikutnya sehingga apa yang disebut Ikhlas, Ridha, Kauf, Mahabbah dan lain-lain tidak sekedar menjadi tulisan saja akan tetapi telah merasuk kedalam hati sanubarinya dan akan dibawa kemana saja.

Ibarat sebuah bengkel, seperti umumnya bengkel lain seringkali apa yang dipraktekkan disana tidak seindah dan semudah dalam teori dan seringkali sekilas seperti bertentangan dengan teori. Misalnya teori membuat mobil, di dalam kitab mobil dijelaskan tentang cara membuat mobil dan kalau kita hanya membaca teori satu malam akan siap akan tetapi jika dipraktekkan di bengkel memerlukan waktu berbulan bulan barulah bisa menghasilkan sebuah mobil. Disinilah diperlukan kesabaran dan ketekunan dari murid untuk bisa menghasilkan karya terbaik dan tentu saja harus mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Sang Ahli. Murid yang baik tidak akan berdebat dengan Sang Ahli tentang teori-teori akan tetapi dia mengikuti dengan penuh keyakinan apa yang diperintahkan oleh Sang Ahli tanpa membantah sedikitpun.

Antara teori dan praktek perbedaannya jauh bahkan sangat jauh, kalau sepintas lalu dilihat aktifitas dalam bengkel seolah-olah bertentangan dengan  aturan dalam Kitab Induk Mobil, yang kita dengar adalah kebisikan, suara palu, percikan api dan orang-orang yang terkesan tidak ramah karena sibuk dengan urusannya masing-masing. Orang yang pertama sekali masuk ke bengkel pasti heran tidak jarang langsung menolak apa yang ada dalam bengkel, ada yang bertahan di hari pertama, minggu pertama bahkan ada yang sudah satu bulan kemudian menyerah dan menyatakan apa yang dilakukan di dalam bengkel adalah sia-sia bahkan dia menyalahkan dengan mengatakan apa yang dilakukan di dalam bengkel tidak sesuai dengan petunjuk KITAB SUCI MOBIL.

Di dalam teori membuat mobil tidak disinggung sama sekali tentang percikan api, kebisingan, orang-orang yang kurang peduli terhadap lingkungan sekitar (karena fokus kepada tugas masing-masing) sehingga siapapun yang pertama sekali masuk ke dalam bengkel akan terasa asing.

Pengalaman Saya di Tarekat

Begitu juga pengalaman saya ketika pertama sekali masuk ke Bengkel Tasawuf bernama Tarekat, saya heran dan menolak semua kegiatan-kegiatan disana. Saya dari kecil di didik di lingkungan Muhammadiyah tentu terkejut ketika harus menghadirkan Mursyid  ketika berzikir, bukankah zikir yang ada dalam tasawuf itu bertujuan untuk mencapai ketenangan dan kedamaian dalam rangka menggapai ridha Allah, lalu kenapa mesti diganggu dengan harus menghadirkan sosok manusia bernama Mursyid?

Belum lagi harus membaca Kaifiyat (tata cara zikir) yang isinya menurut saya tidak sesuai dengan apa yang pernah saya baca dan pelajari. Kenapa mengucapkan Istighfar harus dihadapan Mursyid atau diiktikadkan ada dihadapan Mursyid, kenapa harus minta Syafaat (pertolongan) Guru Mursyid dan seterusnya. Belum lagi sikap orang-orang di Tarekat yang selalu menganggap Gurunya paling hebat, bukankah kedudukan manusia di mata Allah itu sama? Kenapa Guru Mursyid harus diposisikan terlalu tinggi?

Selama 3 bulan terjadi pergolakan dalam diri saya dan hampir saja saya angkat kaki dari Surau tempat saya belajar terekat. Kegiatan rutin di surau adalah tawajuh (zikir bersama) setiap malam Selasa dan malam Jum’at dan hari Minggu diadakan Khatam Tawajuh ba’da Asar. Kawan yang mengajak saya masuk tarekat adalah kawan satu kampus dan dia begitu semangat setiap ada kegiatan surau baik tawajuh rutin, khatam tawajuh maupun acara-acara lain selalu menjemput saya di tempat kost. Pernah suatu malam ketika saya sudah mulai ragu dengan tarekat berniat tidak ikut tawajuh dan dengan diam-diam keluar dari kamar kost dengan tujuan kalau kawan yang ngajak saya masuk tarekat datang tidak jumpa sehingga saya tidak ikut tawajuh. Kebetulan ketika keluar dari kamar kost dan ingin kunci pintu, kawan saya seperti biasa datang dengan sepeda motor tua memakai jas hujan (kebetulan sedang hujan) dan dia mengajak saya ikut tawajuh. Saya lihat wajah dia jadi kasihan juga, akhirnya malam itu saya ikut lagi tawajuh dengan hati seper empat ikhlas.

Setelah 3 bulan saya menekuni tarekat kemudian saya mengalami pengalaman-pengalaman ajaib yang belum pernah saya alami sebelumnya. Pengalaman-pengalaman tersebut tidak saya ceritakan disini dan intinya di hati saya diberi sebuah keyakinan oleh Allah bahwa kalau bukan ini sebuah kebenaran tidak mungkin saya mengalami hal-hal seperti itu.

6 bulan kemudian saya mengikuti Suluk/Iktikaf di Surau Guru saya yang jaraknya satu malam naik bus dari surau tempat saya masuk tarekat, setelah itulah saya meyakini 100% bahwa yang saya jalani ini adalah benar. Pengalaman dalam suluk sulit diceritakan lewat kata dan tulisan dan saya merasakan bahwa saya sedang melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah SAW. Saya rajin berzikir dan jika ada hal-hal yang tidak saya ketahui, saya memberikan sedekah kepada Guru dan semua pertanyaan-pertanyaan yang berat sekalipun saya menemukan jawaban baik langsung dari Guru maupun lewat kawan-kawan seperguruan bahkan jawaban itu datang dari orang luar. Saya mendapat apa yang disebut sebagai salah satu jaminan bagi orang berzikir yaitu Mendapat ilmu langsung dari Allah yang sering disebut ilmu Laduni dimana Allah sendiri yang akan mengajarkan kita.

Di tahun pertama saya menekuni tarekat, banyak sekali hambatan dan rintangan mulai dari masalah fisik sampai kepada masalah finansial. Menjelang Suluk pertama saya mengalami sakit berat, diare selama 3 hari 3 malam tanpa henti dan tidak sembuh walaupun sudah ke dokter dan minum obat dan nyaris saya merasakan mati. Ketika saya akan berangkat suluk kembali bisikan-bisakan was-was datang ke dalam hati. Selalu ada bisikan yang mengatakan bahwa apa yang saya ikuti adalah salah dan sesat. Tapi syukur Alhamdulillah Allah masih berkenan membimbing dan menuntun saya sehingga kemudian baru saya sadari bahwa Guru saya adalah seorang Wali Allah, sosok yang saya cari sejak kecil.

Tasawuf Tanpa Tarekat (2)

Auliya Allah (Wali Allah) sosok yang saya Idolakan sejak kecil

Saya lahir dan besar di desa, dari kecil Nenek saya cerita bahwa di gunung yang ada di desa saya itu tinggal Aulia Allah (Wali Allah). Ketika akan datang musim menanam padi, dipuncak gunung Auliya  Allah akan mengibarkan bendera putih tanda mulai musim menanam padi dan kalau bendera itu sudah dinaikkan maka biasanya hasil padi akan baik dan tidak pernah mengalami gagal panen. Nenek saya juga cerita bahwa Auliya Allah tidak hari kerjanya hanya ibadah dan zikir saya dan saat itu saya tidak pernah menanyakan apa yang dimakan Auliya Allah di hutan, apakah mereka makan nasi atau makanan makanan lain. Bahkan saya meyakini bahwa Auliya Allah itu berbeda dengan manusia seperti kita, sosok gaib seperti malaikat itulah gambaran Auliaya Allah dalam pikiran saya.

Saya pernah bertanya kepada Nenek bagaimana cara berjumpa dengan Auliya Allah, nenek saya menjawab, “Auliya Allah adalah sosok manusia suci dan hanya orang-orang yang bersih, shalat tidak pernah tinggal dan selalu berbuat baik saja yang bisa berjumpa dengan Auliya Allah”. Kemudian saya bertanya lagi, “Apakah Nenek pernah berjumpa dengan Auliya Allah?”. Beliau menjawab, “Nenek pernah perjumpa sekali di dalam mimpi?”. Saya penasaran  dan bertanya lagi, “Bagaimana wajahnya Nek?”, Nenek saya menjawab, “Wajahnya indah, putih bersih bercahaya memakai surban dan memakai jubah putih”.

Saya semakin penasaran dan cerita ini pertama sekali saya dengar dari Nenek ketika saya berumur 6 tahun dan sejak itu saya tidak pernah meninggalkan shalat karena saya ingin sekali berjumpa dengan Auliya Allah. Minimal sekali seumur hidup saya harus pernah berjumpa dengan sosok misterius yang bernama Auliya Allah itu.

Setahun sebelum Nenek saya meninggal dunia, saya telah mengikuti amalan Tarekat dan kemudian baru saya sadari saya bukan hanya telah berjumpa dengan sosok idaman saya, sosok yang saya inginkan sejak kecil tapi saya bahkan diterima menjadi murid Beliau, menjadi murid Wali Allah!

Ketika Nenek saya meninggal dunia, saya telah mengikuti suluk sebanyak 3 kali. Saya masih ingat ketika pulang ke kampung, waktu itu nenek saya sakit berat dan tidak bisa makan dan minum sama sekali. Saya menceritakan kepada nenek saya bahwa saya telah diterima menjadi murid Auliya Allah. Nenek saya dengan setengah ragu dan dengan suara lirih menanyakan kepada saya bagaimana wajah Guru yang saya sebut Auliya Allah tersebut. Saya kemudian ceritakan ciri-ciri Guru saya secara lengkap kepada Beliau. Nampak Nenek saya terkejut dan Beliau mengatakan, “Seperti yang kamu ceritakan itulah Auliya Allah yang bernah datang dalam mimpi ketika nenek masih muda, persis sama!”. Akhirnya beliau dengan semangat mendengar cerita saya tentang kehebatan-kehebatan Guru saya dan anehnya nenek saya seperti mengenal dekat sosok yang saya ceritakan tersebut padahal belum pernah berjumpa secara langsung.

Di akhir hanyat, karena uzur, nenek saya sudah jarang ke masjid dan hanya shalat di rumah. Sehari sebelum meninggal dunia, Nenek saya meminta air dari Auliya Allah kepada saya. Nenek meyakini bahwa air zikir dari auliya Allah bisa menyembuhkan segala penyakit, melapangkan dada bahkan dapat mengusir setan. Apabila minum air dari Auliya Allah maka ketika meninggal akan didatangi oleh Auliya Allah. Saya memberikan air tawajuh yang saya bawa dari surau Guru saya ketika selesai suluk dan Beliau meminumnya. Ketika meninggal dunia, saya berada di kepala Beliau, tidak ada keluh kesah, tidak ada kegundahan di wajah Beliau, ketika meninggal Beliau memandang lurus  dan tersenyum seperti melihat seseorang. Getaran di badan saya juga merasakan kehadiran Guru saya, Auliya Allah yang menjadi idola nenek saya. Beliau meninggal tersenyum dengan menyebut nama Allah. Semua yang hadir heran dan penasaran akan kematian nenek saya yang baik tersebut, meninggal dengan tersenyum dan menyebut nama Allah padahal nenek saya bukan seorang yang ahli ibadah, beribadah hanya sekedar kewajiban saja. Keyakinan akan Auliya Allah sebagai sosok ajaib yang dekat dengan Allah itu yang memberikan semangat kepada Nenek dan akhirnya walaupun tidak pernah berguru kepada Auliya Allah, syafaat sang Auliya Allah mengalir kepada Beliau. Saya selalu berdoa kepada Allah agar memberikan ampunan kepada nenek saya, dan semoga Allah berkenan menerima beliau disisi-Nya.

Tasawuf Tanpa Tarekat (3)

Tasawuf Tanpa Tarekat = Teori

Tasawuf dari sekian banyak definisi bisa kita persingkat menjadi akhlak yang baik, dengan melaksanakan tasawuf maka akhlak manusia ikut menjadi baik. Rasulullah SAW sebagai teladan kita semua memberikan contoh akhlak yang baik dalam kehidupan Beliau, “Sungguh pada diri Rasulullah terdapat Akhlakul Karimah (akhlak yang baik)”. Dengan membaca karya-karya Tasawuf yang ditulis baik oleh Guru Sufi maupun orang-orang yang ahli tentang tasawuf secara teori mungkin bisa saja membuat perilaku kita berubah, suka menolong orang, rajin beribadah dan sabar dalam segala hal, akan tetapi perubahan itu tidak bersifat permanen tapi hanya sementara, selagi kita membaca dan mengingat apa yang ditulis dalam buku tasawuf saat itu kita menjadi baik namun ketika kita lupa maka semuanya akan kembali seperti semula. Akhlak manusia tidak bisa diubah hanya dengan membaca dan mempelajari buku saja. Rasulullah SAW mengubah akhlak manusia dengan menanamkan “Kalimah Allah” ke dalam qalbu para sahabatnya, membersihkan hati dengan zikir sehingga perubahan akhlak para sahabat bukan berasal dari luar akan tetapi berasal dari dalam dan itu bersifat permanen.

Kunci belajar tasawuf secara praktek lewat amal zikir dalam tarekat tergantung dari kualitas Mursyid yang membimbingnya. Seorang Guru Mursyid haruslah berkualitas Wali Allah yang bisa membimbing muridnya 24 jam dimana saja dan kapan saja. Seorang Profesor Tasawuf yang sangat mahir tentang ilmu tasawuf belum tentu bisa menjadi seorang Guru Mursyid. Kalau anda ingin mempelajari tasawuf secara teori, anda bisa membaca buku-buku tasawuf sebagaimana yang saya lakukan dulu sebelum mengenal tarekat atau lebih serius anda bisa kuliah di IAIN dengan mengambil jurusan Tasawuf di Fakultas Ushuluddin dan anda bisa melanjutkan ke jenjang S2 dan S2 baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Ilmu yang anda dapat dibangku kuliah tersebut semua tergolong kepada ilmu Tasawuf secara teoritis. Apakah anda belajar Tasawuf Akhlak, Tasawuf Filsafat atau Tasawuf lain kesemua itu hanya mengisi akal pikiran anda tentang ilmu tasawuf.

Untuk bisa  mengaplikasikan ilmu-ilmu tersebut dalam bentuk nyata, dalam bentuk praktek maka diperlukan “bengkel” bernama Tarekat dibawah bimbingan montir ahli bernama “Mursyid”. Untuk bisa mempraktekkan ilmu dibengkel sebenarnya anda tidak harus menyelesaikan semua teori-teori tasawuf, bahkan orang yang tidak pernah membaca buku tasawufpun bisa mempraktekkannya dalam tarekat. Seorang yang sudah menjadi Sufi terkadang tidak menyadari dia sufi, tidak menyadari bahwa dia telah melewati semua maqam-maqam yang harus dilewati oleh para pencari Tuhan sebagaimana yang tertuang dalam kitab tasawuf. Karena kepatuhannya pada Guru Mursyid yang sangat ahli, tanpa disadari dia sudah sangat mahir mempraktekkan segala maca teori yang tertulis dalam buku.

Itulah sebabnya kenapa seringkali orang yang menekuni tarekat tanpa membaca buku tasawuf terkadang bingung dengan istilah-istilah tasawuf dan kalau kita jelaskan dengan detail makna dari istilah itu dia langsung paham dan tersenyum dan dia menganggap hal tersebut biasa-biasa saja karena sudah sering dilakukan.

Dalam praktek terkadang apa yang menjadi hal rumit secara terori akan menjadi mudah dan sederhana bahkan sangat mudah karena memang dibimbing oleh Sang Ahli, saya mengambil contoh sederhana, dalam pengajian yang dilaksanakan oleh lambaga Tasawuf Tauhid yang membahas tasawuf secara teori, ketika membahasa masalah UBUDIYAH, diperlukan waktu lama dengan berbagai dalil baik Al-Qur’an, Al-Hadist maupun ucapan-ucapan para ulama untuk menerangkan makna dari ubdiyah tersebut. Saya pernah mengikuti pengajian seperti itu dan saya yang sudah menekuni tarekatpun bukan tembah terang dan jelas akan tetapi bertambah bingung dengan teori-teori tersebut. Dalam prakteknya Ubudiyah atau menghambakan diri kepada Allah itu tidak sesulit dan serumit dalam teori. Guru saya, ketika ada orang ingin berubudiyah atau mengetahui makna ubidyah, maka Beliau cukup mewakilkan dengan satu kalimat, “Ambil cangkul dan cangkul tanah itu”, atau kalau sedang pembangunan Mesjid beliau cuma berkata, “Kalau kamu bisa aduk semen, silahkan aduk semen, itulah ubudiyahmu kepada Allah”. Singkat, jelas dan sederhana namun bagi yang melakukan bukan hanya memahami tapi juga merasakan karena telah mempraktekkan langsung makna ubidiyah tersebut.

Bisa jadi makna ubdiyah tidak langsung didapat dalam sehari hanya dengan sekali cangkul, mungkin seminggu, sebulan atau setahun baru dia memahami hakikat dari Ubudiyah. Barulah dia akan paham bagaimana posisi hamba dan bagai mana posisi Allah dalam kesehariannya. Karena ilmu praktek maka akan tunduk pada aturan-aturan dan hukum alam yang sudah berlaku. Kalau menanam bayam harus menunggu 21 hari, walaupun dipaksa tidak akan mungkin bisa panen dalam 1 hari. Begitu juga ilmu tasawuf yang dipraktekkan lewat tarekat, diperlukan kesabaran untuk bisa mencapai hasil-hasilnya. Hasil yang dimaksud adalah mencapai tahap Makrifatullah, mengenal Allah dengan sebenarnya.

Seringkali orang yang tidak berhasil dalam tarekat bukan karena dia tidak sungguh-sungguh, akan tetapi tidak sabar di dalam perjalanannya. Seperti Nabi Musa yang berguru kepada Nabi Khidir, diperlukan kesungguhan dan kesabaran sehingga bisa selamat sampai ke tempat tujuan.

Tarekat berasal dari kata Thariqatullah artinya jalan kepada Allah, memerlukan proses, kesungguhan dan keyakinan penuh bagi si pejalan agar sampai kepada tempat tujuan. Dan yang lebih penting lagi diperlukan pembimbing sebagai sahabat rohani yang senantiasa memberikan petunjuk dan arahan agar tidak tersesat di jalan. Tasawuf yang tidak disertai tarekat tidak menghasilkan apa-apa selain hanya berupa teori semata. Tidak ada bedanya dengan orang belajar fiqih, belajar syariat yang semula adalah ilmu hakikat karena tidak ada pembimbing akan menjadi ilmu syariat, berupa teori semata.

Lebih berbahaya lagi orang mempraktekkan ilmu zikir dalam tasawuf tapi tanpa memiliki Mursyid, hanya berdasarkan apa yang tertulis dalam buku kemudian dipraktekkannya maka akan melahirkan kesesatan yang tanpa disadarinya. Istilah “kemasukan atau kerasukan wali” di datangi oleh Syekh Abdul Qadir Jailani atau Wali lain, berguru secara gaib kepada nabi Khidir atau berguru secara rohani kepada Wali Songo adalah istilah yang berasal dari orang yang mempraktekkan ilmu tanpa Guru Mursyid. Manusia suka cepat dan suka yang instan, tanpa harus zikir dan menuntut ilmu kepada Wali ingin langsung mencapai makrifat sehingga sekarang ada aliran Makrifat, langsung mencapai makrifat tanpa melalui tarekat dan hakekat. Apakah bisa mencapai makrifat langsung? Bisa! Inilah makrifat secara teori. Hakikat makrifat tidak bisa dipelajari lewat akal, ketika rohani kita diantar kehadirat Allah dan menyaksikan langsung SANG MAHA SEGALANYA disaat itulah kita mencapai tahap makrifat yang sebenarnya.

Tasawuf Tanpa Tarekat (Selesai)

Tentang Ziarah Ke Makam Wali/Ulama



Tasawuf adalah dunia rasa dan tidak akan pernah mengetahui tanpa merasakan dan tasawuf juga adalah dunia yang sangat halus, laksana rambut dibelah tujuh, tanpa kehati-hatian bukan Makrifat sebagai puncak tauhid yang didapat akan tetapi malah terjebak dalam kemusyrikan. Para Wali dan Sufi sudah menjadi tradisi mengunjungi makam Wali untuk mengambil berkah dan untuk mendapat petunjuk, petunjuk dan berkah hanya akan didapat kalau memenuhi rukun syaratnya. Kenapa wali atau sufi mengunjungi makam wali karena keduanya mempunyai ikatan atau ada hubungan, apakah hubungan berguru langsung atau makam tersebut salah seorang yang tercantum dalam jalur keguruannya. Sedangkan orang awam, ikut-ikutan mendatangi makam wali tanpa mempunyai ikatan apa-apa bahkan ada yang tanpa mengetahui itu makam wali atau tidak membuat sesajian atau persembahan yang mengarah kepada Musyrik. Praktek-praktek perdukunan karena berhubungan dengan gaib dihubungkan dengan tasawuf yang merupakan mistik Islam yang berhubungan juga dengan gaib. Banyak orang mencampur adukkan yang HAQ dengan yang BATHIL sehingga bukan berkah yang di dapat tapi bala!

Saya misalnya, kalau ke Surabaya tidak pernah singgah ke makam Sunan Ampel, kenapa? Karena saya tidak kenal dengan sunan ampel dan jalur keguruan yang saya tekuni tidak tersambung kepada sunan Ampel. Guru saya bukan salah seorang murid dari Sunan Ampel begitu juga guru dari Guru saya. Kalau saya berada di kota Banda Aceh, saya tidak akan mengunjungi makam Syekh Abdurrauf As-Singkily yang dikenal dengan Syiah Kuala, kenapa? Karena saya tidak mengenal Beliau. Berbeda dengan orang-orang dari Sumatera Barat murid dari Syekh Burhanuddin Ulakan atau para pengamal tarekat Syattariyah yang diajarkan oleh Syekh Burhanuddin, mereka sering berziarah kepada kuburan Syiah Kuala karena Guru mereka Syekh Burhanuddin adalah murid langsung dari Syiah Kuala sehingga keduanya punya hubungan langsung.

Kalau nanti saya berziarah ke makam Syiah Kuala, kemudian ada yang berjubah putih datang mengaku sebagai syiah kuala dan memberikan petunjuk kepada saya, dari mana saya tahu kalau yang datang itu benar-benar Syiah Kuala atau hanya setan yang mengaku sebagai Syiah Kuala?

Inilah yang menjadi cikal bakal kesatan dalam Tasawuf yang sering di kritik oleh orang-orang syariat yang anti tasawuf. Kalau saya suatu saat ke Kazastan di daerah makam Syekh Bahauddin Naqsyabandi, mungkin saya akan berziarah ke makam Beliau karena memang masih ada hubungan tali silsilah, dan itupun harus dengan izin dari Guru saya, izin secara zahir maupun lewat kontak rohani sehingga dengan berkat doa Guru saya akan tersambung secara rohani kepada Syekh Bahauddin dengan demikian saya benar-benar akan mendapatkan berkah dari ziarah tersebut.

Lalu bagaimana dengan masyarakat umum yang datang ke kuburan wali untuk mendapat berkah? Menurut saya itu tidak salah, jangankan kuburan wali, kuburan orang tua kita yang bukan wali saja harus kita ziarahi. Banyak pelajaran yang bisa didapat dengan berziarah ke kuburan ulama, disamping mengingat akan mati juga untuk mengenang kembali perjuangan ulama dalam menegakkan agama ini dan juga menjadi contoh teladan yang baik akan akhlak ulama mudah-mudahan akan memberikan semangat kepada kita untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, mengunjungi kuburan wali tidak berarti anda menjadi seorang Sufi tapi itu tradisi yang dilakukan oleh para wali atau sufi terhadap Makam Guru mereka atau Makam Para Guru yang tersambung dalam jalur silsilah mereka.



Kesimpulan

Kesimpulan saya, siapapun ingin serius merasakan indahnya dunia tasawuf, merasakan kelezatan berjumpa dengan Allah, ketenangan bathin dan pencerahan jiwa jangan sekedar ikut-ikutan tradisi yang berlaku di tengah masyarakat walaupun itu benar tetapi harus menekuni Tarekat, harus menempuh jalan kesana dibawah bimbingan Guru Mursyid agar tidak tersesat di tengah jalan. Disamping untuk memperbaiki akhlak, yang lebih penting adalah bagaimana kita berkomunikasi dengan benar dengan Allah, mengenalnya dengan sebenar kenal sehingga kita tidak salah menyembah. Ketika kita telah mengenal Allah dengan benar, barulah kita bisa mencintai-Nya dengan benar pula. Cara paling aman dan paling mudah untuk bisa berjumpa dengan Allah adalah dengan bimbingan orang yang telah pernah dan sering berjumpa Allah, mereka itu tidak lain adalah Wali Allah (Kekasih Allah).

Demikian!

====================




Thursday, July 11, 2019

9. MENGENAL ROH


=======================




======================

"Man 'Arofa Nafsahu Faqod 'arofa Rabbahu, Wa man a'rofa Rabbahu , Fasadal Jasad"

"Barangsiapa mengenal akan dirinya maka mengenal lah akan Tuhannya. Dan barangsiapa mengenal akan Tuhannya,  binasalah jasadnya"

======================

"Awalludiin maarifatullah"
====================

Al-Isra' 17:85
 
Al-Hijr 15:29
Al 'Ankabuut:57)
Al Fajr 89:27
Al Fajr 89:28
Al Qiyamah  75:14

=================================

Pautan: bagi bacaan tambahan :

You Tube :

1. Ketika Roh & Jasad Berpisah (Masjid Agung Trans Studio-Bandung) - Ustadz Abdul Somad, Lc. MA

2. Ketika Roh dan Jasad Bertemu - Ustadz Abdul Somad, Lc. MA


3. DIMANAKAH LETAK RUH ITU PAK USTADZ ? II USTADZ ABDUL SOMAD



4. Bbenarkah roh akan pulang kerumah pada malam jumat..! ustadz abdul somad LC.MA



5. SETELAH KEMATIAN | Ketika Roh Bertemu Jasad | Ust. Abdul Somad



Pdf dokumen :

1. Pemerintahan Ilahi atas Kerajaan Manusia : Psikologi Ibn ‘Arabi tentang Roh
Terjemahan - Kautsar Azhari Noer 

===============================

Abstract

Artikel ini mencoba membicarakan khususnya kedudukan dan fungsi roh (al-rūh) pada manusia, yang oleh Ibn ‘Arabi diibaratkan sebagai “kerajaan manusia” (al-mamlakah al-insaniyyah). Roh adalah raja kerajaan itu, pemimpin tertinggi yang disebut “khalifah Allah” (khalīfatullah) atau dengan singkat “khalifah” (khalīfah). Tulisan ini menyajikan pandangan Ibn ‘Arabi tentang rancangan dan pengaturan alam, dan peranan sentral yang dimainkan oleh manusia dalam proses kreatif dan pengaturan. Satu-satunya jalan untuk mencapai kesempurnaan manusia adalah pemerintahan/pengaturan ilahi (al-tadbīrat al-ilahiyyah) atas kerajaan manusia, yang di dalamnya ruh mengatur jiwa dan tubuh. Sufi ini menggunakan metafora-metafora dari politik duniawi untuk menggambarkan rincian-rincian pencarian spiritual.

===================
Pendahuluan

Kita sering mendengar penjelasan bahwa manusia terdiri dari dua unsur: roh (rūh) dan jasad (jasad) atau jisim (jism). Roh dan jasad adalah kategori-kategori konseptual paling dasar dari pemikiran Islam pada umumnya. Klasifi kasi konseptual dualitas dasar ini sejalan dengan klasifi kasi konseptual bahwa segala sesuatu di alam semesta ini terdiri dari dua unsur atau sifat: cahaya dan kegelapan, gaib dan nyata, halus dan kasar, batin dan lahir, tinggi dan rendah, maskulin dan feminin, langit dan bumi, aktif  dan pasif, dan seterusnya. Klasifi kasi ini dikukuhkan oleh konsep-konsep dualistik al-Qur’an bahwa Allah adalah Yang Tampak (al-zhhir) dan Yang Tidak Tampak (al-bthin) (Q 57: 3), Allah telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan dan cahaya (Q6: 1; 6: 73), dan Allah adalah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata (Q6: 73; 9: 94, 105). 

Berbeda dengan klasifi kasi konseptual dualistik ini, ada klasifi kasi yang lebih lengkap, yang bisa kita sebut “klasifi kasi konseptual trialistik,” yaitu bahwa manusia terdiri dari tiga unsur: roh (rūh), jiwa (nafs), dan jasad (jasad, jism). Di sini kita melihat bahwa roh menempati kedudukan tertinggi dan jasad menempati kedudukan terendah. Tempat jiwa (nafs) adalah antara roh dan jasad. Karena itu, nafs sekaligus memiliki kecenderungan jasmani, kecenderungan material, dan kecenderungan rohani, kecenderungan spiritual. Ketika unsur jasmani menguasai nafs, ia tetarik kepada kesenangan dan keuntungan duniawi. Tetapi, ketika nafs berkembang kepada tingkat lebih tinggi, dalam arti dikuasai oleh unsur rohani, ia menjadi tertarik kepada asalnya, yaitu Tuhan. Maka selalu ada tarik-menarik antara kecenderungan jasmani, yang mengarah kepada kejahatan, pada satu pihak, dan kecenderungan rohani, yang mengarah kepada kebaikan, pada pihak lain. Mana yang menang di antara dua kecenderungan ini tergantung pada mana yang lebih kuat dan berkuasa. 

Tulisan ini mencoba membicarakan khususnya kedudukan dan fungsi roh pada manusia, yang oleh Ibn ‘Arabi diibaratkan sebagai “kerajaan manusia” (al-mamlakah al-insniyyah). Roh adalah raja kerajaan itu, pemimpin tertinggi yang disebut “khalifah Allah” atau “khalifah” saja. 

Roh Ilahi dan Roh-roh Partikular

Pembicaraan Ibn ‘Arabi tentang roh – dan juga tentang jiwa – tidak dapat dipisahkan dari pembicaraannya tentang Roh Ilahi dalam kisah penciptaan Adam dalam al-Qur’an karena asal “setiap roh adalah Roh Ilahi” (al-rūh al-ilhī), yang kadangkala disebut “roh bersambung”(al-rūh al-idlfī atau al-rūh al-mudlf), karena Allah menyambungkannya dengan diri-Nya dengan kataganti “Nya,” “Ku,” dan “Kita” dalam beberapa ayat al-Qur’an, khususnya tiga ayat yang terkait dengan penciptaan Adam.2 Dua dari tiga ayat tentang penciptaan Adam memiliki bunyi yang persis sama, atau boleh juga dikatakan satu ayat yang diulang dua kali pada dua surat yang berbeda, yaitu fi rman Allah: “Maka ketika Aku telah membentuknya secara sempurna dan seimbang dan meniupkan kepadanya roh-Ku, maka tunduklah kamu [para malaikat] di hadapannya dengan bersujud” (Q 15: 29; 38: 72). Satu ayat lain adalah fi rman-Nya: “Kemudia Dia membentuknya secara sempurna dan seimbang dan meniupkan kepadanya roh-Nya” (Q 32: 9). 

Ibn ‘Arabi memahami bahwa yang dimaksud dengan roh dalam tiga ayat ini adalah roh Allah sendiri, bukan roh selain Dia. Karena itu, Sufi  terkenal dari Andalusia ini menyebut roh ini “roh y’” (rūh al-y’), yaitu roh yang disambungkan dengan huruf y’, yang merupakan kataganti “Ku.” Beliau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ungkapan “roh y’” adalah fi rman Allah, “Aku telah meniupkan kepadanya roh-Ku” (.Q 15: 29; 38: 72), dengan y’ sambungan kepada diri-Nya, untuk menunjukkan perhatian pada tahap pemberian kemuliaan. [Seakan-akan] Dia berkata, “Kamu [manusia] adalah mulia pada asal, maka janganlah kamu berbuat kecuali sesuai dengan asalmu. Janganlah kamu melakukan perbuatan buruk.”3 Di sini kita melihat roh yang ditiupkan oleh Allah kepada manusia ketika ia diciptakan adalah roh Allah sendiri, sebagaimana dikatakan-Nya dengan ungkapan “roh-Ku” dan “roh-Nya.” Peniupan roh-Nya kepada manusia adalah pemberian kemuliaan kepada manusia, yang sekaligus merupakan keistimewaan yang tidak diberikan oleh Allah kepada makhluk-makhluk lain. 

Sufi  yang bergelar “Syekh Terbesar” (al-syaykh al-akbar) ini mengidentikkan roh ini, yang disebut “roh y’,” dengan “jiwa yang satu” (nafs whidah) sebagai asal penciptaan Adam, Hawa, dan anak keturunan mereka. 

Jiwa-jiwa diciptakan dari asal yang satu (ma‘din whidah), sebagaimana Allah swt berkata, “Dia menciptakan kamu dari jiwa yang satu” [Q 4: 1]. Dia berkata setelah kesiapan (isti‘dd) penciptaan jasad, “Aku telah meniupkan kepadanya roh-Ku” [Q 15: 29]. Maka rahasia yang ditiupkan kepada tempat objek peniupan benarlah dari roh yang satu, yaitu jiwa (al-nafs). Firman Allah, “Dalam bentuk apapun yang Dia kehendaki, Dia menyusunmu” [Q 82: 8], bermakna kesiapan. Maka sesuai dengan hukum kesiapan itu manusia menjadi ada untuk menerima perintah ilahi.

Roh Ilahi adalah daya yang membuat tubuh alam hidup. Tanpa Roh Ilahi tubuh alam tidak bisa hidup. Tubuh alam mencakup tubuh-tubuh individualitasnya, dan demikian pula roh tubuh alam mencakup roh-roh individualitasnya. Di sini kita melihat kesatuan roh-roh yang bersumber dari satu roh, yaitu Roh Ilahi, sebagaimana kesatuan tubuh-tubuh individualitas tubuh alam yang terkandung dalam satu tubuh alam. Ibn ‘Arabi mengatakan, 

Maka tubuh alam (jism al-‘lam) hidup dengannya [Roh Ilahi]. Sebagaimana tubuh alam mencakup tubuh-tubuh individualitasnya, demikian pula rohnya mencakup roh-roh individualitasnya. “Dia menciptakan kamu dari jiwa yang satu” [Q 4: 1]. Atas dasar ini, orang mengatakan bahwa roh adalah satu entitas pada individu-individu rumpun manusia, demikian pula roh Zaid adalah [sama dengan] roh ‘Amru dan semua individu rumpun manusia. Tetapi orang yang mengatakan urusan ini tidak menyadari bentuk urusan ini, karena sebagaimana bentuk tubuh Adam bukanlah bentuk tubuh setiap individu keturunannya, sekalipun ia adalah asal yang darinya kita muncul dan dilahirkan, demikian pula roh yang memerintah tubuh keseluruhan alam.

Roh Ilahi adalah ibarat cahaya matahari yang menyebar ke seluruh bagian bumi, yang terbagi-bagi ke tempat yang berbeda. Semua cahaya di semua tempat itu adalah satu. Yang membagi-bagi cahaya yang satu itu adalah tempat berbeda yang disinarinya. “Roh-roh itu adalah roh yang satu (rūh whidah). Sungguh, matahari menjadi berbeda hanya melalui tempat-tempat, seperti cahaya-cahaya adalah cahaya entitas yang satu. Bagaimanapun, sifat perbedaan pada wadah-wadah itu adalah berbeda karena perbedaan wataknya dan bentuk-bentuk penampilannya.”6 Dapat pula dikatakan bahwa perbedaan roh-roh partikular disebabkan oleh perbedaan kesiapan roh-roh itu untuk menerima cahaya Akal Pertama (al-‘aql al-awwal), yang disebut oleh Allah dalam Kitab Mulia “Roh” dan disambungkan-Nya kepada diri-Nya. Allah mengatakan tentang jiwa-jiwa natural, Roh ini, dan roh-roh partikular yang dimiliki oleh setiap jiwa natural, “Maka ketika Aku telah membentuknya secara sempurna dan seimbang dan meniupkan kepadanya roh-Ku” [Q 15: 29], yang tidak lain adalah Akal Terbesar (al-‘aql al-akbar) ini.

Roh Ilahi, seperti dikatakan di atas, adalah daya yang membuat tubuh alam hidup. Tanpa Roh Ilahi tubuh alam tidak bisa hidup. Dalam konteks bahwa Roh Ilahi, yang merupakan Napas Sang Rahman (nafas al-rahmn), ditiupkan ke dalam alam, ia kadang kala disebut “lingkungan hidup” (falak al-hayh). Allah memilih Roh [yang tertinggi] dari malaikat-malaikat karena ia adalah yang ditiupkan ke dalam setiap bentuk, dan melalui Roh itulah segala sesuatu hidup. Itulah Roh yang disambungkan kepada diri Allah, dan itulah Napas Sang Rahman yang merupakan sumber hidup. Hidup adalah kebahagiaan, kebahagiaan adalah kesenangan, dan kesenangan sesuai dengan watak [setiap penerima cahaya Roh itu]. 

Roh Ilahi disebut “Roh Seluruh” (al-rūh al-kull), “Roh Universal” (al-rūh al-kullī), “Akal Pertama,” atau “Akal Terbesar, sedangkan roh-roh yang berasal dari Roh Ilahi itu disebut “roh-roh partikular” (al-arwh al-juz’iyyah) atau “roh-roh berjasad” (al-arwh al-mutajassidah).

Pemerintahan Esensial 

Pemerintah atau pengatur (al-mudabbir) hakiki alam dan segala sesuatu di dalamnya adalah Tuhan (al-Haqq). Pemerintahan atau pengaturan (tadbīr) Tuhan atas alam adalah hubungan antara Tuhan dan alam. Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa hubungan antara pemerintah dan yang diperintah, antara pengatur dan yang diatur, adalah hubungan antara yang tidak tampak (al-bthin) dan yang tampak (al-zhhir). Yang tidak tampak adalah ruh, yang memerintah atau mengatur, sedangkan yang tampak adalah bentuk, yang diperintah atau diatur. Ketika membicarakan bahwa Tuhan adalah Yang Tampak (al-zhhir) dan Yang Tidak Tampak (al-bthin), Ibn ‘Arabi mengatakan,

Maka sesungguhnya Tuhan memiliki penampakan pada setiap ciptaan. Dia adalah Yang Tampak pada segala sesuatu yang dapat dipahami, tetapi Dia adalah Yang Tidak Tampak dari setiap pemahaman kecuali dari pemahaman orang yang berpendapat bahwa alam adalah bentuk-Nya dan “ke-Diaan”-Nya. Itu adalah Nama Yang Tampak, sebagaimana Dia adalah juga ruh apa yang tampak; karena itu, Dia adalah Yang Tidak Tampak. Maka hubungan-Nya dengan bentuk alam yang tampak seperti hubungan ruh yang memerintah/mengatur [alam] dengan bentuk [alam] itu.

Baik alam, yang sering disebut makrokosmos, maupun manusia, yang sering disebut mikrokosmos, kedua-duanya memiliki bentuk (shūrah) dan roh (rūh). Bentuk adalah yang tampak, sementara roh adalah yang tidak tampak. Baik alam maupun manusia, dilihat dari segi bahwa keduanya adalah yang tampak dan yang tidak tampak, adalah penampakan diri (tajallī) Tuhan sebagai Yang Tampak dan Yang Tidak Tampak. Dengan kata lain, dua nama atau sifat alam dan manusia, yaitu yang tampak dan yang tidak tampak, adalah penampakan dua Nama Tuhan ini, Yang Tampak dan Yang Tidak Tampak. Bentuk dan roh pada alam dan manusia adalah dua unsur yang tidak bisa dipisahkan. Alam baru bisa disebut alam dalam arti yang sebenarnya jika ia memiliki dua unsur ini. Demikian pula manusia baru bisa disebut manusia jika ia memiliki dua unsur ini. Roh memberikan hidup kepada bentuk, memerintah dan mengaturnya. Tanpa roh, tidak ada hidup, tidak ada pemerintahan, dan tidak ada pengaturan pada bentuk.

Ibn ‘Arabi mengaitkan pengetahuan [yang benar] (ma‘rifah) tentang Tuhan dengan pengetahuan tentang jiwa/diri (nafs) manusia. Keduanya, Tuhan dan jiwa/diri manusia, bisa diketahui hanya secara komprehensif, bukan secara detil. Barangsiapa yang menyatukan tanzīh dan tasybīh dalam pengetahuan tentang Tuhan niscaya akan mengetahui Tuhan sebagaimana mengetahui jiwa/dirinya. Dalam konteks ini, Syekh Terbesar ini mengatakan bahwa manusia adalah bentuk Tuhan (shūrat al-haqq) dan Dia adalah roh manusia (rūh al-insn). Dalam kaitan ini ada dua sisi. Sisi pertama adalah bahwa manusia adalah bentuk Tuhan. Pada sisi ini Tuhan adalah Yang Tampak (al-zhhir). Sisi kedua adalah bahwa Tuhan adalah roh manusia. Pada sisi terakhir ini, Tuhan adalah Yang Tidak Tampak (al-bthin). Sufi  agung ini mengatakan, 

Karena itu, Nabi saw  mengaitkan pengetahuan tentang Tuhan dan pengetahuan tentang jiwa/diri [manusia]. Maka Nabi saw berkata, “Barangsiapa mengetahui jiwa/dirinya niscaya mengetahui Rabb-nya.” Allah Ta‘l berfi rman, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk,” yang berarti apa yang ada di luar [jiwa/diri] kamu, “dan pada jiwa/diri mereka,” yaitu entitasmu, “sehingga jelaslah bagi mereka,” yaitu bagi yang melihat/memandang (al-nzhir), “bahwa Dia adalah Tuhan” [Q 41: 53] dari segi bahwa kamu adalah bentuk-Nya dan Dia adalah rohmu. Kamu bagi-Nya seperti bentuk jismiah bagimu. Dia bagimu seperti roh yang memerintah/mengatur bentuk jasadmu.

Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa asal [segala sesuatu] adalah Tuhan. Dia selama-lamanya adalah Pemerintah/Pengatur (mudabbir) sejak azali. Maka mesti pemerintahan/pengaturan-Nya atas objek tertentu yang diperintah/diatur-Nya ada sejak azali. Objek itu tidak lain dari entitas-entitas segala yang mungkin, yang disaksikan-Nya dalam keadaan ketiadaannya, karena entitas-entitas adalah permanen. Maka Dia memerintah/mengatur di antara entitas-entitas itu bahwa sebagian didahulukan atas sebagian lain dan sebagian diakhirkan atas sebagian lain dalam menjadikan entitas-entitasnya dan bentuk-bentuk yang ada padanya. Ketika Allah ingin mengadakan roh-roh yang memerintah/mengatur (al-arwh al-mudabbirah), roh-roh itu hanya menjadi yang memerintah/mengatur. Jika roh-roh itu tidak memiliki entitas-entitas dan bentuk-bentuk yang di dalamnya pemerintahan/pengaturan mereka muncul, maka realitas roh-roh akan tiada, karena mereka dengan sendirinya adalah pemerintah/pengatur.

Roh-roh yang memerintah/mengatur muncul hanya dalam bentuk-bentuk watak wadah-wadah yang menerima roh-roh itu. Dalam pemerintahan/pengaturan mereka, roh-roh itu tidak melampaui apa yang dibutuhkan oleh bangunan-bangunan yang diperintah/diatur. Tuhan tidak mungkin tampak pada entitas-entitas apa-apa yang mungkin kecuali dalam bentuk apa yang diterima enitas-entitas itu; maka, pada hakikatnya, entitas-entitas itu tidak dalam bentuk Tuhan. Sebaliknya, pemerintah/pengatur (al-mudabbir) adalah dalam bentuk yang diperintah/diatur (al-mudabbar), karena tidak ada dari pemerintah/pengatur itu yang tampak pada yang diperintah/diatur kecuali sesuai dengan ukuran penerimaan yang diperintah/diatur itu.

Di sini kita melihat bahwa roh-roh dalam hubungannya dengan wada-wadah yang menerimanya adalah pemerintah/pengatur, sementara wadah-wadah itu adalah yang diperintah/diatur. Bentuk-bentuk penampakan roh-roh itu tergantung pada bentuk-bentuk watak wadah-wadah yang menerimanya. Bentuk-bentuk itu sebenarnya berasal dari bentuk-bentuk kesiapan entitas-entitas permanen untuk menerima Roh Ilahi, yang disebut pula Roh Universal. Semua bentuk itu pada awalnya bersumber pada Tuhan sebagai pemerintah/pengatur alam semesta. Dalam konteks ini, Tuhan adalah roh alam, sementara alam adalah bentuk-Nya. Tuhan tidak menampakkan diri-Nya pada entitas-entitas permanen kecuali dalam bentuk-bentuk kesiapan entitas-entitas itu. Karena itu, roh-roh yang memerintah/mengatur itu muncul pada wadah-wadah yang diperintah/diaturnya sesuai dengan bentuk-bentuk watak atau kesiapan wadah-wadah itu. Dengan kata lain, penampakan pemerintah/pengatur sesuai dengan bentuk yang diperintah/diatur. Namun, pada akhirnya, semua bentuk penampakan itu berasal dari bentuk-bentuk kesiapan entitas-entitas permanen yang telah sejak azali dalam Pengetahuan Ilahi.

Roh Perintah

Dalam konteks lain, Ibn ‘Arabi membuat perbedaan antara dua macam roh: pertama, “roh y’ bersambung” (rūh y’ al-idlfah), dan kedua, “roh perintah” (rūh al-amr). Yang pertama, yang disebut pula “roh ilahi” (al-rūh al-ilhī) atau “roh yā’i (al-rūh al-y’ī), seperti dikatakan di atas, adalah roh yang disambungkan dengan huruf y’, yang merupakan kataganti personal “Ku,” yang kembali kepada Allah. Ini adalah roh Allah dan Dia meniupkan sesuatu dari roh ini ke dalam semua tubuh. Yang kedua adalah roh yang membawa perintah-perintah atau ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Allah kepada makhluk-makhluk tertentu. Allah mengirim roh jenis kedua ini dengan pesan-pesan kepada para nabi dan Ahli Allah (ahlu’Llh), yang dengan demikian memberi mereka dukungan atau “penegasan” (al-ta’yīd).

Allah memberikan petunjuk kepada manusia melalui roh perintah. Ibn ‘Arabi, dengan mengutip al-Qur’an, mengatakan, “Tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus” (Q 2: 213) melalui roh yang diwahyukan (al-rūh al-mūh) dari perintah Allah. Maka “Dia memberi petunjuk dengan itu kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya” (Q 6: 88). Jadi Allah meneguhkan hidayah melalui roh [perintah] itu. Inilah penetapan sebab petunjuk di alam. Maka berhenti pada sebab-sebab tidak menafi kan kebergantungan pada Allah.17 Ini berarti bahwa pada akhirnya Allah adalah yang menentukan siapa yang mendapat pentunjuk dari Dia. Betul bahwa petunjuk diberikan oleh Allah melalui roh perintah atau roh dari perintah-Nya, tetapi penentuan siapa yang diberi pentunjuk itu tergantung atas kehendak-Nya. 

Ibn ‘Arabi menamakan ilmu “roh” karena ilmu (al-‘ilm) membuat kalbu hidup, sebagaimana roh-roh membuat entitas-entitas semua tubuh hidup. Sufi  dari Andalusia ini mengatakan,

Karena kalbu-kalbu menjadi hidup melalui ilmu, sebagaimana entitas-entitas semua tubuh hidup melalui roh-roh, maka ilmu dinamakan “roh” yang diturunkan oleh malaikat-malaikat pada kalbu-kalbu para hamba Allah dan yang Dia kirim dan wahyukan tanpa perantara berkenaan dengan hamba-hamba-Nya juga. Adapun pengiriman dan pewahyuan roh oleh Allah adalah fi rman-Nya, “Dan demikianlah Kami mewahyukan kepadamu roh dari perintah Kami” [Q 42: 52]. Adapun diturunkannya para malaikat dengan roh pada kalbu-kalbu para hamba-Nya adalah fi rman-Nya, “Dia menurunkan para malaikat dengan roh dari perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya” [Q 16: 2]. Para malaikat adalah para guru dan para ustaz dalam wilayah gaib yang disaksikan orang-orang yang kepada mereka para mailakat itu turun.

Ibn ‘Arabi tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan “roh perintah” atau “roh dari perintah Kami” dalam dua ayat pada kutipan di atas, yang berbunyi “Dan demikianlah Kami mewahyukan kepadamu roh dari perintah Kami” [Q 42: 52] dan “Dia menurunkan para malaikat dengan roh dari perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya” [Q 16: 2]. Jawabannya dapat ditemukan pada bagian lain penjelasan Syekh Terbesar ini, yaitu ketika ia mengatakan bahwa roh pada ayat pertama (Q 42: 52) adalah Roh Yang Dipercaya (al-rūh al-amīn) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yaitu Roh Kudus (rūh al-quds), yaitu yang suci dari ikatan-ikatan manusia.19 Yang dimaksud dengan roh pada ayat kedua (Q 16: 2) adalah peringatan (al-indzr), yaitu peringatan “bahwa tidak ada tuhan kecuali Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku” (Q 16: 2). Roh di sini adalah peringatan yang dibawa oleh para malaikat supaya siapapun dari hamba-hamba Allah yang menerimanya menjadi hidup, sebagaimana tubuh-tubuh hidup dengan roh-roh [partikular].20 Ibn ‘Arabi menjelaskan pula bahwa pada kedudukan ini perantara lenyap, karena wahyu yang diturunkan identik dengan roh, sedangkan pengirim wahyu itu adalah Allah, tidak lain. Maka roh ini tidak identik dengan malaikat, tetapi ia identik dengan pesan.21 Formulator agung Sufi sme ini pada kesempatan lain menjelaskan bahwa roh-roh perintah menurunkan ilmu-ilmu tentang yang gaib kepada kalbu-kalbu para hamba Allah.

Roh perintah pada dua ayat al-Qur’an yang telah disebutkan (Q 42: 52, dan 16: 2) dalam penjelasan Ibn ‘Arabi pada beberapa kesempatan menunjukkan beberapa makna yang berbeda. Pada satu kesempatan ia mengatakan bahwa roh itu adalah Roh Yang Dipercaya atau Roh Kudus. Pada kesempatan lan ia mengatakan bahwa roh itu adalah peringatan, yaitu peringatan bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan suruhan agar manusia bertakwa kepada-Nya. Pada kesempatan lain ia mengatakan bahwa wahyu identik dengan roh itu. Dan pada kesempatan lain pula ia mengatakan bahwa roh adalah yang menurunkan ilmu tentang yang gaib kepada kalbu hamba Allah. Kesan yang muncul adalah bahwa Syekh Terbesar tidak konsisten memberikan makna roh perintah ini. Ada roh yang kelihatannya personal, yaitu Roh Yang Dipercaya atau Roh Kudus, dan yang menurunkan ilmu tentang yang gaib kepada kalbu hamba Allah. Tetapi ada pula roh yang kelihatannya impersonal, yaitu peringatan dan wahyu. Mungkin Sufi  ini lebih menekankan makna esensialnya, yaitu fungsinya untuk menghidupkan kalbu hamba Allah, baik penyampai pesan maupun pesan itu sendiri, baik penurun ilmu maupun ilmu sendiri, baik pembawa wahyu maupun wahyu itu sendiri.

Menata Kerajaan Manusia 

Bagian ini akan membicarakan apa yang oleh Ibn ‘Arabi disebut pemerintahan/ pengaturan ilahi (al-tadbīrt al-ilhiyyah)  atas kerajaan manusia (al-mamlakah al-insniyyah). Sufi  termasyhur ini membicrakan masalah ini dalam karyanya Al-Tadbīrt al-Ilhiyyah fī Ishlh al-Mamlakah al-Insniyyah.23 Karya ini membicarakan pemerintahan kerajaan manusia, yaitu cara memerintah/mengatur diri kita sendiri, yang merupakan sumber keselamatan kita sesungguhnya. Kitab ini adalah menjadi “imam yang jelas bagi yang tidak kemasukan keraguan dan perkiraan” (al-imm al-mubīn alladzi l yadkhuluhu raybun wa l takhmīnun).24 Dapat dikatakan bahwa karya ini bertujuan menjadi pedoman menjalani hidup bagi orang yang ingin hidup sebagai makhluk Allah yang paling mulia.

Allah telah menjadikan manusia sebagai khalifah-Nya di atas bumi karena kelebihan dan keistimewaannya di banding dengan makhluk-makhluk lain. Manusia adalah khalifah Allah yang bertugas memimpin dunia sebagai kerajaannya. Tetapi kerajaan hakikinya adalah kerajaan di dalam dirinya sendiri. Bumi hakikinya adalah bumi tubuhnya sendiri yang lengkap dan sempurna dengan dan bagian-bagian dan penghuni-penghuni yang dapat dikelola dengan pemerintahan yang dituntun oleh Allah. Bagaimana mungkin manusia menjadi khalifah Allah di atas bumi bila ia sendiri tidak mampu menjadi khalifah di atas bumi dirinya sendiri?

Ibn ’Arabi melukiskan tubuh manusia bagai kota dengan segala yang ada di dalamnya. Allah mendirikan kota untuk menjadi tempat tinggal sang khalifah bersama rakyat dan para pegawai pemerintahannya. Ketika Allah menyelesaikan pembangunan kota itu, Dia menentukan tempat khusus untuk sang khalifah. Tempat khusus itu adalah hati (qalb). Allah berfi rman melalui hadis qudsi: “ Langit dan bumi-Ku tidak mampu meliputi-Ku, tetapi hati hamba-Ku yang mu’min meliputi-Ku.” Nabi bersabda: “Sungguh, Allah tidak memandang pada parasmu dan tidak pula pada perbuatanmu, tetapi pada hatimu.” Allah menjadikan roh (al-rūh) sebagai khalifah atas tubuh. Maka yang bertanggungjawab atas tubuh bukanlah hati nabati, tetapi adalah roh. Ibn ‘Arabi membedakan hati nabati dan hati rohani yang disebut qalb, yang didalam al-Qur’an dikatakan, “Sebenarnya bukan mata mereka yang buta, tetapi yang buta adalah hati di dalam dada” (Q 22: 46). Nabi Muhammad saw berkata: “Ada sepotong daging di dalam tubuh manusia. Jika ia baik, maka seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Sepotong daging itu adalah hati [qalb].” Jika pemimpin baik, rakyatnya juga baik. Jika ia rusak, rakyatnya juga rusak. Pemimpin itu adalah roh.

Allah juga mendirikan taman di bagian tertinggi kota itu, yang dinamakan dimgh (otak). Dia membuka empat jendela besar untuk mengawasi kerajaan itu. Empat jendela itu adalah telinga, mata, hidung, dan mulut. Dia juga membangun di depan taman itu tempat penyimpanan yang disebut “tempat penyimpanan khayal” (khaznat al-khayl). Di taman itu Tuhan membangun tempat penyimpanan pikiran dan tempat penyimpanan hapalan. Allah menjadikan taman kota yang disebut “otak” itu sebagai tempat tinggal perdana menteri yang disebut “akal” (‘aql). Allah juga menjadikan nafs (diri/jiwa) sebagai tempat perubahan dan pembersihan, dan tempat perintah dan larangan. Roh menikahi nafs dan pernikahan ini melahirkan tubuh. Selain itu Allah juga menciptakan kepala suku yang disebut “hawa nafsu” (haw) dan menteri yang disebut “syahwat” (syahwah). 

Nafs ini sering digoda dan dirayu oleh hawa nafsu dan syahwat sehingga jatuh ke dalam pelukan hawa nafsu dan syahwat. Akal tidak mencegahnya bahkan menutupinya agar Khalifah tidak mengetahui bahwa isterinya telah dirampas. Roh tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika nafs sadar bahwa ia tertipu, maka ia mulai menyesali perbuatannya (al-nafs al-lawwmah). Ia semakin sadar dan terilhami untuk berbuat baik (al-nafs al-mulhamah). Keadaan itu membuat ia menjadi tenang (al-nafs al-muthma’innah) karena ia telah bersatu kembali dengan suaminya (roh) atas pertolongan Allah.

Sufi  terbesar dari Andalusia ini menasehatkan agar Anda berteman dengan orang-orang yang beriman, berbuat ihsan, adil dan patuh pada hukum Allah. Pada hakikatnya, iman, ihsan, keadilan, dan kepatuhan adalah teman-teman yang baik. Karena itu, berakhlak dengan sifat-sifat itu adalah jalan keselamatan bagi manusia di dunia dan akhirat. Maka beliau mengingatkan agar Anda berhati-hati terhadap teman-teman yang jahat karena mereka berbahaya bagi diri Anda. Mereka itu mungkin menjadi penyebab keruntuhan kerajaan Anda dan kehancuran negeri wujud Anda. Teman yang jahat itu tidak jauh dari diri Anda. Ia ada di dalam diri Anda sendiri. “Teman (al-qarīn) dalam [diri] Anda itu adalah hawa nafsu Anda (hawka).” Dikatakan, “Perangilah hawa nafsu Anda (jhid hawka), karena ia adalah musuh Anda yang paling besar.” Allah berfi rman, “Wahai orang-orang beriman! Perangilah orang-orang kafi r yang dekat dengan kamu” (Q 9: 123). Orang kafi r itu adalah “orang kafi r yang paling dekat dengan kamu (aqrab al-kuffr ilayka).”

Peringatan Ibn ’Arabi ini tampaknya diinspirasi oleh perkataan Nabi Muhammad saw sepulang dari Perang Badar. Beliau berkata: “Kita telah kembali dari jihad yang lebih kecil kepada jihad yang lebih besar.” Lalu para sahabat bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, apa jihad yang lebih besar itu?” Rasulullah menjawab: “Jihd nafs” (“Jihad melawan diri sendiri”). Pada sebagian nash (teks), ungkapan yang digunakan adalah “mujhadat al-nafs” (yang juga berarti “melawan diri”). Di dalam beberapa kitab tasawuf, ungkapan yang digunakan bukan “jihd al-nafs,” tetapi adalah “mukhlafat al-nafs” (yang juga dapat diterjemahkan dengan “melawan atau menentang diri”). Ungkapan “mukhlafat al-nafs” ditemukan, misalnya, dalam kitab Al-Rislah al-Qusyairiyyah (karya ‘Abd al-Karim al-Qusyayri) dan dalam Al-Futūht al-Makkiyyah (karya Ibn ‘Arabi). Kata nafs berarti jiwa, diri, ego, atau hawa nafsu.

Jadi jihad terbesar adalah melawan diri sendiri, memerangi diri sendiri, dan bahkan meninggalkan diri sendiri. Diri yang harus dilawan, diperangi, atau ditinggalkan adalah diri yang memiliki kecenderungan pada kejahatan, yang disebut al-nafs al-ammrah  (diri/jiwa yang memerintah kepada kejahatan). Meninggalkan diri adalah pintu gerbang untuk berakhlak dengan akhlak Allah, yang berarti berakhlak dengan nama-nama-Nya, atau sifat-sifat-Nya. Inilah jalan yang benar menggapai Sang Kebenaran (al-Haqq), sumber segala kebenaran.

Berakhlak dengan akhlak Allah adalah jalan menuju Allah, Sang Kebenaran, yang harus dilakukan dengan meninggalkan diri. Ibn ‘Arabi mengisahkan pengalaman spiritual Abu Yazid al-Bistami mencari cara mendekatkan diri kepada Tuhan, sebagai berikut:

Pada waktu yang lain, Abu Yazid berkata kepada Rabb-nya: “Dengan apa aku mendekatkan diri kepada-Mu?” Sang Kebenaran (al-Haqq) menjawab: “Tinggalkan dirimu dan datanglah [kepada-Ku]!” Ketika ia meninggalkan dirinya, ia meninggalkan sifat kehambaannya, karena kehambaan (‘ubūdiyyah) identik dengan kejauhan dari Ketuanan (siydah), dan hamba jauh dari Tuan. Maka dalam kerendahan dan kefakiran, ia mencari kedekatan dengan kehambaan, sedangkan dalam meninggalkan diri ia mencari kedekatan dengan berakhlak dengan akhlak Allah. Itu adalah dengan apa yang menjadi kesatu-paduan.

“Berakhlak dengan akhlak Allah” dengan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya, sebagaimana dialami Abu Yazid, harus dimulai dengan meninggalkan diri. Dapat pula dikatakan bahwa meninggalkan diri adalah langkah awal berakhlak dengan akhlak Allah. Berakhlak dengan akhlak Allah adalah tasawuf, dan akhlak Allah adalah al-Qur’an, sebagaimana ditemukan pada Muhammad. 

Ibn ‘Arabi melukiskan bahwa pasukan kerajaan bagaikan tiang penopang tenda kerajaan dan pasak pengukuh yang dipegang orang. Kerajaan itu adalah laksana rumah, yang mesti ditopang empat tiang penyangga. Empat tiang penyangga itu, yang terbuat dari sifat-sifat manusia, adalah kekuatannya. Angka Empat adalah hakikat dasar bilangan; di dalamnya ada angka Tiga. Jika angka Tiga kita tambahkan kepada angka Empat, hasilnya adalah Tujuh. Di dalam angka Empat ada pula angka Dua. Jika angka Dua kita tambahkan kepada angka Tujuh, hasilnya adalah Sembilan. Yang tersisa setelah angka Dua adalah angka Satu. Jika angka Satu kita tambahkan kepada angka Sembilan, hasilnya adalah Sepuluh. Inilah bilangan dasar. Tidak ada angka lain yang jika ditambahkan menjadi Sepuluh kecuali Empat tambah Tiga, tambah Dua, tambah Satu, yang pada gilirannya sama dengan angka Empat. Jadi angka Sepuluh ada di dalam angka Empat.

Angka Empat dipilih karena mengandung kearifan (hikmah), yang memiliki kekuatan-kekuatan ilahi. Angka Empat menyelenggarakan tugas kerajaan, dan karena itu penyangga takhta adalah delapan tiang, sebagaimana dikatakan Nabi Muhammad saw: “Langit disangga oleh delapan tiang, tetapi di zaman kita hanya ada empat tiang.” Allah berirman: “Pada hari itu delapan malaikat menjunjung Takhta Tuhan di atas mereka” (Q 69: 17). Khalifah Allah memiliki empat unsur dasar dalam alam materi, yaitu tanah, air, udara, dan api. Empat unsur ini pula yang menjadi dasar seluruh alam. Empat unsur dasar ini merupakan gerbang menuju Empat Puluh. 

Empat adalah arah-arah yang memasuki kerajaan manusia. Semua pengaruh yang menimbulkan kerusakan dalam kehidupan manusia berasal dari “empat arah”: kanan, kiri, depan, dan belakang. Allah berfi rman: “Kemudian aku [Iblis] akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka” (Q 7: 17). Tidak ada arah lain yang menjadi sumber godaan Iblis. Yang di bawah adalah arah yang memanggil manusia, sedang yang di atas adalah tempat jalan turunnya Tuhan (al-tanazzul al-ilhī), yang dilarang untuk didekati oleh manusia, karena itu adalah jalan qadha dan qadar.

Manusia sebagai Tuan Yang Mulia diperintahkan untuk berhati-hati mengadapi empat arah ini karena memiliki kekuatan untuk merusak. Manusia harus menempatkan empat kesatuan pasukan dengan empat jenderalnya untuk menjaga dan melindungi kerajaan, nyawa, dan kedamaian. Musuh hanya dapat memasuki wilayah kerajaan jika empat arah ini tidak dijaga. Strategi perang adalah: menempatkan rasa takut (khawf) kepada Allah di arah kanan, menempatkan harapan (raj’) kepada Allah di arah kiri, menempatkan ilmu (‘ilm) di arah depan, dan menempatkan tafakur (tafakkur) di arah belakang.

Khatimah

Mungkin tidak keliru jika kita mengatakan bahwa persoalan yang paling penting dalam hidup kita adalah bagaimana menjalani hidup agar kita menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. Banyak di antara kita yang mengaku sebagai manusia secara tidak sadar telah jatuh ke dalam kelalaian yang telah membuat kita menjadi jenis manusia yang disebut oleh Ibn ‘Arabi disebut “manusia binatang” (al-insn al-hayawn). Bagi Sufi  ini, manusia binatang adalah manusia yang memiliki sifat-sifat persis seperti sifat-sifat binatang. Manusia jenis ini adalah binatang yang bentuk lahirnya menyerupai bentuk lahir manusia, tetapi sifat-sifatnya adalah sifat-sifat binatang. Manusia seperti ini bukanlah khalifah Allah, karena yang menjadi khalifah-Nya adalah manusia yang mencapai kesempurnaan, yaitu manusia yang berakhlak dengan akhlak-Nya. Inilah manusia dalam arti yang sebenarnya.

Bagaimana menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya? Bagaimana menjalani hidup yang benar agar menjadi makhluk yang paling mulia di antara makhluk-makhluk lain? Apa yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan ini? Atau meminjam pertanyaan yang diajukan oleh Seyyed Hossein Nasr, seorang pemikir Sufi  asal Iran yang terkemuka, dalam karyanya yang ditulisnya pada periode kematangan hidupnya The Garden of  Truth (2007), yang menjadi Bagian Pertama karya ini, “What It Means to Be Human: Who Are We and What Are We Doing Here?” Dengan bimbingan Allah, Ibn ‘Arabi telah mencoba menjawab pertanyan-pertanyaan ini dalam karya-karya sebagai ekspresi pengalaman spiritualnya.  

Satu-satunya jalan untuk mencapai tujuan kesempurnaan itu adalah pemerintahan atau pengaturan ilahi atas kerajaan manusia yang ada dalam diri kita sendiri. Ini adalah jalan spiritual yang dalam tradisi Islam disebut tasawuf atau Sufi sme. Wilayah garapan utamanya adalah wilayah spiritual atau rohani, yang berfokus pada spirit atau roh (al-rūh). Pemerintahan ilahi atas kerajaan manusia dipimpin ole roh sebagai khalifah atau rajanya. Roh dalam pemerintahan ini memerintah dan mengendalikan jiwa dan tubuh, bukan sebaliknya. Ini adalah pemerintahan spiritual, yang menuntun perkembangan intelektual dan emosional. Wilayah ini dikaji oleh psikologi spiritual, yang disebut “psikologi Sufi .” Roh, karena dinggap aneh, tidak disentuh oleh psikologi tradisional. Maka kekosongan tugas ini dapat diisi oleh psikologi spiritual sebagai sumbangan untuk kemanusiaan. 

Wa’Llhu a‘lam bi al-shawb.


======================================
Urls :

Aqidah : Soalan Mengenai Kedatangan Roh - TASEK PAUH blogspot

Proses Kejadian Janin dan Peniupan Roh - Oleh: Abu Anas Madani 1422

**9 (Sembilan) UNSUR ROH YANG TERDAPAT DALAM DIRI MANUSIA **

Kisah Rasulullah Mengenai Roh Jenazah - Laman Web E-Pusara

Mimbar Jumaat : Roh Yang Tergantung

Ruh Adalah Urusan Tuhanmu - Soal Jawab Aqidah Tauhid

Roh, jasad merasai azab seksa | Harian Metro

Surat Al-Isra Ayat 85 Arab, Latin, Terjemahan Arti Bahasa Indonesia

Roh, Jiwa Nyawa & Jasad dalam Persfektif Qur’ani